CEPA dengan Uni Eropa: Akhir dari Penantian Panjang
Setelah lebih dari 10 tahun negosiasi, Indonesia akhirnya menyepakati perjanjian dagang CEPA dengan Uni Eropa.
Perjanjian ini akan menghapus hampir seluruh tarif perdagangan bilateral, membuka akses luas ke pasar Eropa dengan standar tinggi dan populasi lebih dari 460 juta jiwa.
Analis hubungan internasional Ali Rif’an menyebut CEPA sebagai “arah baru diplomasi ekonomi Indonesia” yang tidak hanya fokus pada tarif, tetapi juga pada kesetaraan dan pembangunan jangka panjang.
Baca Juga:Perluasan TPA Sarimukti Tak Kurangi Krisis Sampah di Bandung BaratRPJMD Jabar Dikebut, Pertumbuhan Ekonomi Bakal ditarget 7,95 Persen
“Meski menjadi peluang besar, pelaku usaha dalam negeri tetap harus bersiap menghadapi tantangan standar mutu dan kompetisi yang lebih ketat di pasar Eropa,” kata dia.
Langkah-langkah Presiden Prabowo mencerminkan pendekatan baru dalam diplomasi ekonomi: aktif, seimbang, dan tidak bergantung pada satu blok ekonomi tertentu.
Di tengah gejolak proteksionisme dan ketegangan geopolitik, Indonesia memilih jalur diversifikasi mitra dagang sebagai strategi menjaga pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, sinergi antara kebijakan luar negeri dan penguatan industri dalam negeri menjadi kunci agar berbagai kesepakatan strategis ini mampu diimplementasikan secara optimal dan berkelanjutan.
