Komitmen Wujudkan “Self Awareness is The New Superpower” di Tengah Krisis Kesehatan Mental Remaja

Komitmen Wujudkan "Self Awareness is The New Superpower" di Tengah Krisis Kesehatan Mental Remaja
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah kepungan tantangan global dan isu kesehatan mental yang semakin mendesak, dua pilar pendidikan terkemuka di Jawa Barat, IKIP Siliwangi dan STIKes Budi Luhur Cimahi, mengambil langkah progresif yang patut dicatat.

Mengapa tidak, keduanya secara resmi menjalin kemitraan strategis dengan Jatidiri.app , platform psikologi digital inovatif, dalam sebuah inisiatif bernama ” Jatidiri.app Goes to Kampus”.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung khidmat di Kampus IKIP Siliwangi ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah deklarasi tegas bahwa “Self Awareness is The New Superpower” di era modern ini.

Baca Juga:IAW Usulkan Presiden Terbitkan Keppres Audit Ulang Tanah BersejarahDesain AION UT Bergaya Eropa, Berikut Filosofinya

Darurat Kesehatan Mental dan Fenomena Salah Jurusan: Sebuah Panggilan Mendesak

Masa lalu mungkin mengagungkan kekuatan fisik, kecerdasan akademik semata, atau kekuasaan sebagai ‘superpower’. Namun, di era turbulensi, kompetisi, dan globalisasi yang serba cepat ini, kekuatan sejati telah bergeser.

Kesadaran diri (Self Awareness) kini menjadi modal esensial yang memungkinkan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, berprestasi, dan mencapai kebahagiaan hakiki.

“Kalau kamu memiliki peta diri, kamu akan tahu ke mana harus berjalan. Self-awareness adalah peta itu,” tegas Maulis Taufik K. Purwadinata, CEO Jatidiri.app.”Dan di era sekarang, peta diri itulah superpower yang sesungguhnya.”

Pentingnya inisiatif ini terasa semakin mendesak mengingat kondisi kesehatan mental remaja Indonesia yang memprihatinkan.

Sebuah survei skala nasional (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey/I-NAMHS) mengungkap data mengejutkan: satu dari tiga remaja Indonesia, atau sekitar 9,1 juta orang, memiliki masalah kesehatan mental.

Bahkan, satu dari dua puluh remaja, atau sekitar 2,45 juta orang, didiagnosis mengalami gangguan mental. Angka ini jauh melampaui data 2018 yang menunjukkan 6,1% penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional.

Selain itu, fenomena mahasiswa salah jurusan juga menjadi beban mental tersendiri. Studi menunjukkan bahwa sekitar 87% mahasiswa di Indonesia merasa salah jurusan, sebuah kenyataan yang berpotensi memicu stres, kecemasan, hingga depresi berkepanjangan dan berdampak pada produktivitas serta kualitas hidup.

0 Komentar