Terbongkar! Beras Premium Oplosan Rugikan Warga Bandung Barat

Ilustrasi: beras medium yang dijual di Pasar Tagog Padalarang, Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Ilustrasi: beras medium yang dijual di Pasar Tagog Padalarang, Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSRES –  Sejumlah warga di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyampaikan kekecewaannya setelah terungkapnya praktik penipuan yang dilakukan oleh sejumlah produsen beras di Indonesia.

Kasus ini mencuat ke publik setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman secara tegas mengungkap temuan tersebut dalam konferensi pers nasional.

Dalam keterangannya, Menteri Amran menyebut bahwa sejumlah produsen diketahui mencampurkan beras kualitas rendah ke dalam kemasan berlabel premium. Tidak hanya itu, mereka juga diduga memalsukan label merek dan informasi pada kemasan untuk menyesatkan konsumen.

Baca Juga:Belum Ada SPDP, Kuasa Hukum Klarifikasi Status Hukum Dahlan IskanJelang Tahun Ajaran Baru, Farhan: Jadikan MPLS Sebagai Masa Pengenalan, Bukan Perpeloncoan

“Ini adalah bentuk penipuan terhadap rakyat. Kami telah menemukan bukti bahwa praktik pengoplosan dan pemalsuan informasi dilakukan secara sistematis oleh oknum produsen. Ini tidak bisa ditoleransi,” ujar Amran, dalam pernyataan resminya beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pernyataan Amran tersebut langsung menimbulkan reaksi dari masyarakat, terutama di wilayah Bandung Barat. Banyak warga merasa selama ini telah menjadi korban dari praktik curang tersebut, apalagi harga beras terus melonjak dalam beberapa pekan terakhir.

“Saya merasa benar-benar kecewa. Harga mahal tapi kualitas buruk. Setelah dengar pernyataan Pak Menteri dari berita, saya baru sadar kalau selama ini mungkin saya juga jadi korban,” ujar Risma (35), warga Padalarang, saat ditemui Minggu (13/7/2025).

Senada dengan Risma, Lilis (42), warga Ngamprah yang berprofesi sebagai penjual nasi kuning, mengaku sangat dirugikan. Ia menuntut pemerintah bertindak tegas.

“Kalau terbukti curang, harus diproses hukum. Ini menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” katanya.

“Kita beli mahal dan dijual lagi untuk konsumen. Saya penjual nasi sangat dirugikan, apalagi kalau beras cepat basi dan tidak pulen, bisa bikin pelanggan kecewa.” sambungnya kecewa.

Kekecewaan juga datang dari warga di pelosok Bandung Barat. Agus (40), seorang petani penggarap di Kecamatan Rongga, mengungkapkan keprihatinannya.

Baca Juga:Negara Ambil Alih Perawatan Bayi Terlantar di Citalem Bandung BaratPelatih Dewa United Puji Penampilan Timnya Usai Kunci Posisi Ketiga Piala Presiden 2025

Menurutnya, kondisi ini mencerminkan ketimpangan antara petani kecil dan pelaku industri besar yang memanfaatkan celah untuk keuntungan pribadi.

“Kami yang kerja di sawah dari pagi sampai sore, malah yang untung besar justru orang-orang yang main curang di pabrik. Ini tidak adil,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya menyasar produsen, tetapi juga memperbaiki rantai distribusi beras dari hulu ke hilir agar petani tidak terus dirugikan.

0 Komentar