Desain eksteriornya terlihat kotak, kaku, dan terlalu sederhana. Di bagian interior, tata letaknya terasa tidak lazim, dengan dashboard berada di tengah dan dominasi material plastik keras yang memberikan kesan murahan. Fitur-fiturnya sangat minim, bahkan untuk standar city car sekalipun, Etios terasa seperti mobil dari dekade sebelumnya.
Performa mesin juga tidak impresif. Dengan mesin 1.2 liter, tenaga yang dihasilkan tidak besar, dan konsumsi bahan bakarnya pun kalah efisien dibandingkan kompetitornya pada saat itu.
Karena minimnya peminat, Toyota menghentikan produksi Etios Valco lebih cepat dari yang direncanakan. Saat ini, meskipun harga bekasnya sangat murah, bahkan sudah di bawah Rp90 juta, mobil ini tetap tidak layak dibeli. Etios Valco merupakan contoh nyata bagaimana produk yang tidak sesuai dengan pasar akan gagal, bahkan meskipun membawa nama besar Toyota.
Baca Juga:Kelebihan dan Kekurangan Mobil Jepang di Indonesia, Belajar dari Merek HondaSkandal Chromebook Rp10 Juta Per Unit, Laptop Kentang Harga Sultan dari Proyek Rp10 Triliun
Toyota Corolla Altis Tipe G 1.8 (2014–2019)
Sekilas, Toyota Corolla Altis generasi ini memang terlihat mewah dan elegan. Namun jika ditinjau lebih dalam, mobil ini tergolong terlalu mahal untuk apa yang ditawarkan. Saat baru diluncurkan, harganya mencapai sekitar Rp450 juta, namun sayangnya tidak disertai fitur yang menonjol.
Tidak ada fitur keselamatan aktif, tidak ada ADAS, tidak ada sunroof, dan performa mesinnya juga tergolong standar. Mesin 1.8 liternya tidak jauh berbeda dengan mesin Toyota lainnya di kelas menengah. Bagi Anda yang mengharapkan karakter sporty atau nuansa premium di interiornya, Altis justru terasa terlalu netral dan hambar.
Dashboard-nya memiliki desain datar, material yang digunakan juga biasa saja. Pengalaman berkendaranya memang nyaman dan aman, namun bagi sebagian orang, kesan tersebut terasa membosankan, terutama jika dibandingkan dengan kompetitornya. Misalnya, Honda Civic Turbo memiliki aura sporty yang kuat, sementara Mazda 3 hadir dengan nuansa premium yang lebih kental.
Selain itu, nilai jual kembali (resale value) Altis generasi ini juga tidak begitu baik. Banyak konsumen lebih memilih Toyota Camry untuk kesan mewah yang lebih kuat, atau Honda Civic jika menginginkan performa yang lebih dinamis. Akibatnya, Corolla Altis berada di tengah-tengah tanpa identitas yang kuat, tidak cukup mewah, tidak cukup sporty, dan tidak cukup menarik secara keseluruhan.
