PHK Bukan Satu-satunya, Ini 8 Alasan Karyawan Kehilangan Pekerjaan

8 Alasan Karyawan Kehilangan Pekerjaan
8 Alasan Karyawan Kehilangan Pekerjaan
0 Komentar

Karyawan yang memiliki daya tawar tinggi, seperti pengalaman kerja yang luas, jaringan profesional yang kuat, prestasi yang baik, serta kondisi keuangan yang stabil (tidak memiliki tanggungan keluarga atau utang, dan memiliki tabungan memadai), cenderung lebih mudah mengambil keputusan untuk keluar jika mereka merasa tidak nyaman dengan atasannya.

Biasanya, keputusan untuk resign diambil karena akumulasi kekecewaan yang berlangsung dalam waktu lama. Misalnya, atasan yang toxic, seperti:

  • Tidak peduli pada kondisi karyawan
  • Melakukan micromanagement
  • Menetapkan target yang tidak realistis
  • Tidak pernah memberikan apresiasi
  • Tidak mau mengakui kesalahan sendiri
  • Bersikap semena-mena terhadap bawahan

Kekecewaan-kekecewaan kecil ini terus menumpuk dan akhirnya bisa meledak ketika dipicu oleh satu kejadian tertentu. Pada titik tersebut, banyak karyawan yang memilih keluar demi menjaga kesehatan mental mereka.

Apakah Anda pernah memiliki pengalaman meninggalkan atasan karena alasan serupa?

Baca Juga:17 Koin Kuno Paling Langka dan Mahal yang Diburu Kolektor Uang di Dunia5 Pinjaman Bank Digital Resmi OJK Tanpa Jaminan 2025

  1. Sakit Kritis Berkepanjangan

Seseorang juga bisa kehilangan pekerjaan karena mengalami sakit kritis berkepanjangan, misalnya tidak dapat masuk kerja selama lebih dari 3 bulan.

Penyakit kritis adalah kondisi medis yang parah dan kronis, membutuhkan waktu pengobatan yang lama (bahkan hingga berbulan-bulan di rumah sakit), dan kemungkinan untuk pulih sepenuhnya sangat kecil.

Kami di Finansialku pernah menangani beberapa klien yang menghadapi situasi sulit karena anggota keluarga, seperti suami, dirawat intensif akibat komplikasi penyakit.

Solusinya adalah:

  • Menjaga gaya hidup sehat
  • Memiliki dana darurat
  • Memiliki asuransi penyakit kritis (critical illness insurance)

Perlu diketahui, asuransi penyakit kritis berbeda dengan asuransi kesehatan. Jika seseorang memiliki polis asuransi penyakit kritis dan terkena penyakit seperti stroke, maka pihak asuransi akan mencairkan uang pertanggungan dalam bentuk tunai langsung ke rekening tertanggung.

Dana tersebut bebas digunakan untuk berbagai keperluan: biaya hidup sehari-hari, pengobatan medis maupun alternatif, pembelian vitamin, terapi tusuk jarum, dan sebagainya.

  1. Meninggal Dunia

Setelah sakit kritis, risiko berikutnya adalah kematian. Ketika seseorang meninggal dunia, maka otomatis pemasukan yang ia hasilkan pun terhenti.

Namun, pertanyaannya adalah: bagaimana kondisi keuangan keluarga yang ditinggalkan?

Apakah masih ada anak yang harus dibiayai sekolah? Siapa yang akan membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga? Siapa yang akan menjadi tulang punggung keluarga?

0 Komentar