Dealer Indonesia Yakin Strategi Ekosistem VinFast Dukung Elektrifikasi

Dealer Indonesia Yakin Strategi Ekosistem VinFast Dukung Elektrifikasi
Dealer Indonesia Yakin Strategi Ekosistem VinFast Dukung Elektrifikasi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ketika para dealer VinFast dari Indonesia mengunjungi Vietnam, yang mereka temui bukan sekadar pabrik otomotif modern, melainkan sebuah ekosistem industri dan layanan yang terintegrasi secara menyeluruh dan beroperasi dalam skala besar.

Di kompleks manufaktur Hai Phong, mereka menyaksikan tingkat otomasi yang tinggi, rantai pasok yang terintegrasi, serta sistem pengendalian kualitas dengan standar internasional. Namun, yang paling meninggalkan kesan mendalam adalah arsitektur ekosistem yang lebih luas: di mana terdapat sektor industri, pendidikan, kesehatan, hingga perhotelan, sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan, bukan sekadar ekspansi jangka pendek.

“Mulai dari pabrik, universitas, rumah sakit, hingga hotel, semuanya mencerminkan kemampuan eksekusi berskala besar serta visi strategis jangka panjang,” ujar Hartono Kurniawan, Direktur dealer VinFast di Regol – Bandung, Pekanbaru – Riau, dan Jawa Barat. “Hal ini menciptakan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi mitra internasional.”

Baca Juga:Visi Hijau Terintegrasi Vingroup: Dari Kendaraan Listrik VinFast hingga Megakota ESG++ dan Ekosistem PerkotaanNovak Djokovic Mundur dari Qatar Open 2026 karena Kelelahan

Keyakinan terhadap fondasi ekosistem inilah yang kini menjadi dasar ekspektasi para dealer Indonesia terhadap perjalanan VinFast di Tanah Air, seiring pasar yang tengah memasuki fase percepatan elektrifikasi.

Ekosistem sebagai Keunggulan Struktural di Tengah Transformasi Pasar

Menurut Gede Sastrawan, General Manager VinFast Bali, keberadaan ekosistem menjadi pembeda strategis utama VinFast di pasar.

“Banyak produk bagus di pasar, namun keunggulan kompetitif jangka panjang tidak berasal dari satu model kendaraan saja, melainkan dari struktur yang mampu mendukung seluruh kebutuhan pelanggan, mulai dari infrastruktur pengisian daya, layanan purna jual, hingga kapabilitas manufaktur domestik.”

Pada tahap awal adopsi kendaraan listrik, hambatan utama bagi konsumen Indonesia bukan hanya performa produk, tetapi juga keandalan infrastruktur serta kemudahan penggunaan dalam aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, Gede menegaskan bahwa pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pengisian daya dengan standar operasional tinggi merupakan hal yang tidak dapat ditawar.

“Infrastruktur pengisian daya harus beroperasi secara andal, dirawat dengan baik, serta didistribusikan secara strategis di lokasi-lokasi penting. Ketika infrastruktur sudah dapat diandalkan, persepsi konsumen akan berubah dengan cepat,” jelasnya.

0 Komentar