“Saat saya kunjungi, korban sudah bisa lari-lari, tampak sehat secara fisik. Tapi memang bekas lukanya masih ada. Kejadiannya memang sudah sekitar sebulan yang lalu,” kata Ade.
Menurut pengakuan keluarga, korban kerap pulang dengan memar di tubuhnya, namun tidak pernah mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban perundungan.
Ia menduga jika korban memiliki karakter tertutup atau cenderung menutupi apa yang sebenarnya terjadi karena rasa takut atau tekanan dari pelaku.
Baca Juga:Bupati Bogor Rudy Susmanto Apresiasi Pemenang Lomba Video Kreatif HJB ke-543Krisis Transportasi Umum Kota Bandung Tak Kunjung Tuntas
“Secara kasat mata, trauma tidak terlihat. Tapi secara psikis bisa jadi ada tekanan. Korban juga tidak pernah cerita, bahkan ketika berdarah pun mengaku hanya karena jatuh,” ucapnya.
Akan Terus Lakukan Pendampingan
Ade juga menegaskan akan terus melakukan pendampingan terhadap korban, baik secara hukum maupun psikologis. Juga memastikan keadilan bagi keluarga korban.
“Pendampingan terhadap korban kami lakukan secara berkelanjutan. Intinya kami ingin pelaku dihukum sesuai proses hukum yang berlaku,” pungkasnya.
Sebelumnya, kasus perundungan tersebut melibatkan tiga terduga pelaku, dua di antaranya masih di bawah umur dan satu lainnya merupakan orang dewasa berusia sekitar 20 tahun.
Peristiwa yang sempat viral di media sosial itu disebut terjadi sekitar satu bulan yang lalu, namun baru belakangan terungkap ke publik.
Dalam video yang beredar terlihat korban sedang dimasukan oleh para pelaku ke dalam sumur, kemudian kembali ditarik oleh pelaku sambil wajahnya penuh dengan darah.
Dalam video itu juga terlihat jika korban mengenakan seragam SMP dan terus menyikap darah yang ada pada bagian wajahnya. Sementara para pelaku perundungan terdengar hanya tertawa melihat peristiwa tersebut. (Agi)
