Sakola Motekar Ciamis Hidupkan Kembali Permainan Rakyat di Festival Jabar 2025

Sakola Motekar Ciamis Hidupkan Kembali Permainan Rakyat di Festival Jabar 2025
Sakola Motekar Ciamis Hidupkan Kembali Permainan Rakyat di Festival Jabar 2025
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Anak-anak dari Sakola Motekar, Kabupaten Ciamis, tampil memikat dalam Festival Permainan Rakyat Jawa Barat 2025 yang digelar di Teater Tertutup Taman Budaya Jabar, Kota Bandung, beberapa hari lalu. Membawakan lakon Ngabungbang: Ulin di Buruan Mangsa Caang Bulan, mereka hadir dengan pertunjukan sederhana namun sarat makna.

Di atas panggung, permainan tradisional yang barangkali selama ini hanya hidup dalam ingatan para orang tua kembali hadir penuh semangat: péclék, congklak, pérépét jéngkol, sapintrong, dan lainnya dimainkan dengan keceriaan, kekompakan, dan pemahaman akan nilai-nilai yang dikandungnya.

Namun, yang membuat pertunjukan ini begitu menarik bukan sekadar keberhasilan menghidupkan kembali bentuk-bentuk permainan rakyat. Di balik lantunan kawih dan gerak yang tampak spontan, terselip narasi kuat yang mengangkat pesan-pesan kultural.

Baca Juga:DPRD KBB Desak Pemda Tutup 13 Tambang IlegalDorong Inovasi Pengelolaan di Tiap Kelurahan, Wakil Wali Kota Cimahi Siapkan Solusi Ini

Tokoh Nini Antéh, simbol dari memori kolektif dalam tradisi lisan Sunda, hadir sebagai penutur nilai, penjaga kesadaran, sekaligus sosok transenden yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Apa yang dilakukan Sakola Motekar patut dicatat sebagai model pendidikan budaya berbasis pengalaman. Budaya tidak diajarkan sebagai sekadar materi hafalan, melainkan sebagai peristiwa hidup yang dijalani. Anak-anak belajar melalui tubuh mereka, melalui tawa, irama, dan dialog yang tumbuh secara alami dalam permainan.

Di bawah bimbingan dua seniman dan pendidik budaya, Deni Weje dan Mang Ebel, anak-anak ini tidak sekadar tampil, melainkan tumbuh sebagai pelaku budaya. Mereka menyusun sendiri alur pertunjukan, memainkan instrumen, dan membentuk komunitas kecil yang saling mendukung. Dalam konteks pendidikan karakter dan penguatan identitas lokal, pendekatan seperti ini terasa semakin penting.

Festival Permainan Rakyat Jabar sendiri merupakan program strategis dari UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat untuk merawat permainan rakyat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya. Tahun ini, tema “Masyarakat Jawa Barat Bahagia, Rukun, Mengenal dan Mencintai Budayanya” tercermin kuat dalam berbagai pementasan—salah satunya dari Sakola Motekar.

“Anak-anak ini bukan hanya simbol harapan, tapi juga pengingat. Untuk mencintai budaya, kita tak perlu melihat terlalu jauh. Cukup membuka halaman rumah, mendengarkan nyanyian masa kecil, dan memberi ruang bagi anak-anak untuk bermain dengan makna,” ujar Deni Weje, pimpinan Sakola Motekar, Kamis (26/6/2025).

0 Komentar