Dan jika sampai Gudang Garam benar-benar kolaps, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan itu sendiri. Ini bukan sekadar tentang satu perusahaan besar yang gulung tikar. Kehancuran Gudang Garam bisa menjadi sinyal bahaya bagi seluruh industri rokok konvensional di Indonesia.
Sebab, jika perusahaan sebesar Gudang Garam saja sudah kewalahan menghadapi perubahan, bagaimana nasib pabrik-pabrik rokok kecil yang modal dan kapasitasnya jauh lebih terbatas? Efek domino sangat mungkin terjadi. Bukan tidak mungkin, kita akan menyaksikan lebih banyak lagi perusahaan tembakau yang tumbang dalam waktu dekat.
Dampak paling langsung dari potensi kolapsnya Gudang Garam tentu akan dirasakan oleh mereka yang bekerja dalam ekosistem industri rokok. Perlu diingat, industri ini menyerap sekitar 5 hingga 6 juta tenaga kerja, mulai dari petani tembakau di lereng gunung, buruh pelinting rokok di pabrik, hingga agen dan pengecer rokok di warung-warung.
Baca Juga:Aplikasi AMV Mengklaim Legal dan Punya Kantor Tapi Penghasil Uang Skema Ponzi7 HP 5G Layar AMOLED 120 Hz Murah Terbaik 2025, Mulai Rp2 Jutaan!
Jika Gudang Garam benar-benar tumbang, yang paling terlihat adalah hilangnya setidaknya 20.000 lapangan pekerjaan secara langsung. Belum termasuk ribuan hingga ratusan ribu orang lain yang bekerja di luar perusahaan namun bergantung pada keberadaan Gudang Garam. Di tengah kondisi ekonomi yang sedang berat, kehilangan penghasilan seperti ini bisa menjadi bencana besar bagi banyak keluarga.
Dampaknya tak berhenti di sana. Pemasukan negara juga berpotensi terganggu. Industri rokok merupakan penyumbang cukai terbesar. Pada tahun 2022 saja, cukai rokok berhasil menembus angka Rp226 triliun. Dalam kurun waktu 17 tahun terakhir, kontribusi cukai terhadap pendapatan negara mencapai 7,8%, jauh melampaui kontribusi BUMN yang hanya 2,7%.
Jika produsen rokok resmi tumbang dan pangsa pasarnya diambil alih oleh rokok ilegal yang tidak membayar cukai, maka pendapatan negara jelas akan anjlok. Padahal, dana dari cukai ini digunakan untuk pembiayaan sektor kesehatan dan pembangunan infrastruktur. Maka, persoalan ini bukan sekadar kebangkrutan perusahaan, tetapi menyangkut hilangnya tumpuan ekonomi jutaan orang, semakin longgarnya pengawasan terhadap produk ilegal, dan berkurangnya sumber dana publik yang sangat vital.
Jika Gudang Garam runtuh, yang goyah bukan hanya industrinya, tetapi juga fondasi ekonomi masyarakat dan negara yang selama ini bertumpu pada sektor ini. Dan jika perusahaan sebesar Gudang Garam saja bisa terguncang, hal itu menjadi bukti nyata bahwa dalam dunia bisnis, sebesar apa pun perusahaannya, jika tidak adaptif, tetap bisa tumbang.
