Pencemaran dari Rumah Tangga Jadi Sorotan, Pemkot Cimahi Genjot Pembangunan Septictank

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana saat Simbolis Groundbreaking Septictank di Cibeureum (Mong)
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana saat Simbolis Groundbreaking Septictank di Cibeureum (Mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Cimahi menyoroti masih adanya praktik pembuangan tinja langsung ke selokan oleh sebagian warga, khususnya di wilayah Kelurahan Cibeureum.

Kondisi ini dianggap sangat memprihatinkan dan menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, karena berpotensi memicu stunting akibat air yang tercemar.

Pemkot Cimahi melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk pembangunan 835 unit septictank, baik komunal maupun individu.

Baca Juga:Retret Gelombang Kedua, Gubernur Lemhannas Tekankan Pentingnya Isu Dinamika Geopolitik GlobalUtang Pemprov Jabar ke BPJS Capai Rp330 Miliar, Sekda Beberkan Alasannya!

Lokasi pencanangan dipusatkan di Kelurahan Cibeureum, sebagai salah satu wilayah yang masih rawan praktik pembuangan limbah tidak sehat.

“Alhamdulillah, hari ini kita melaksanakan kegiatan groundbreaking pembangunan septictank komunal maupun individu, khususnya di Cibeureum. Ini adalah tempat pencanangan sekaligus pelaksanaan awal yang sudah kita cek langsung di lapangan,” ujar Wali Kota Cimahi, Ngatiyana saat ditemui di Cibeureum, Cimahi, Senin (23/5/25).

Ia menjelaskan, pembangunan septictank ini merupakan upaya serius pemerintah untuk menghentikan praktik warga yang masih membuang kotoran langsung ke selokan.

“Sangat miris, karena kasihan masyarakat, terutama anak-anak kita. Kalau kotoran dibuang ke sungai, dampaknya bisa stunting. Oleh sebab itu, pemerintah bergerak cepat membangun septictank agar tahun 2045 kita bisa bebas dari stunting,” ujarnya.

Pemkot juga menargetkan agar tahun depan alokasi anggaran untuk pembangunan sanitasi ini bisa ditingkatkan demi memperluas cakupan dan mempercepat pencapaian target sanitasi sehat bagi seluruh warga.

Terkait dengan sosialisasi kepada masyarakat, pihaknya menekankan pentingnya peran kelurahan dan puskesmas.

“Kita akan terus sosialisasikan kepada masyarakat melalui kelurahan-kelurahan dan puskesmas agar jangan lagi membuang kotoran ke sungai atau selokan. Air minum bisa terkontaminasi, akibatnya bisa cacingan, diare, dan penyakit lainnya. Maka dari itu, penyiapan sanitasi ini sangat penting demi mewujudkan masyarakat sehat menuju 2045,” tegasnya.

Baca Juga:Sampah Menggunung Selama Bertahun-tahun di Pasar Cihaurgeulis, Pemkot Bandung Baru BertindakAtasi Kemacetan, Bupati Bandung Dorong Pembangunan Flyover Bojongsoang 

Adapun untuk pengelolaan septictank setelah penuh, masyarakat diminta untuk tidak khawatir. Pemerintah telah menyiapkan layanan pengaduan dan penanganan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) air limbah maupun DPKP.

“Kalau septictank sudah penuh, silakan hubungi pemerintah Kota Cimahi. Bisa melalui pengaduan masyarakat, UPT air limbah di Cibeureum, atau langsung ke DPKP. Biasanya septictank bisa bertahan 3 hingga 4 tahun, asal masyarakat disiplin. Jangan membuang sabun bekas cucian atau limbah non-organik seperti kain dan plastik ke dalam saluran septictank karena bisa menyebabkan mampet,” ujarnya.

0 Komentar