Menelisik Krisis Sunyi Kaum Muda

Tips Menangani Depresi
Ilustrasi Depresi (freepik.com)
0 Komentar

“Akhirnya muncul perasaan-perasaan seperti, “Kok hidup orang lain lancar ya? Aku doang yang stuck.” Dan dari situ, overthinking dan rasa gagal bisa muncul,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Tim Psikolog PT Martasandy Psychology Indonesia, Aulia Ainunniswah, S.Psi., M.M, menilai, hal ini diperparah dengan pengaruh media sosial yang dilakukan tanpa filterisasi. Dimana para remaja biasa menjadikan tokoh sebagai tolak ukur pencapaian dirinya.

Ketika hal itu tidak mampu digapai dan tidak realistis, lama-lama menyebabkan trigger pada pemikirannya sendiri yang mengakibatkan pola pikir menjadi stres.

Baca Juga:Kombes Pol Kusworo Wibowo Raih Penghargaan Siswa Terbaik Mental Kepribadian di Yudisium Sespimti Polri Angkatan 34TPS Pasar Kosambi Membludak, Warga: Dua Bulan Lebih Tidak Terangkut

“Media sosial bikin remaja mudah merasa tidak cukup, dengan banyaknya konten-konten pencapaian, followers banyak, badan ideal, keluarga harmonis. Padahal, itu semua tidak selalu real. Tapi otak kita, apalagi otak remaja yang belum sepenuhnya matang secara emosi, bisa ketrigger. Lama-lama, pikiran seperti itu,” ungkapnya

Ketika Sekolah Tak Lagi Aman

Sistem pendidikan pun belum cukup tanggap. Meskipun skrining dilakukan oleh dinas kesehatan, belum semua sekolah memiliki konselor profesional. Guru Bimbingan Konseling (BK) kerap kewalahan atau tidak cukup terlatih menangani isu berat seperti ide bunuh diri.

“Saya datang ke guru BK karena sering mimpi mati. Tapi cuma dibilang kurang ibadah,” cerita A, pelajar SMA di Bandung.

Butuh Tindakan Sistemik

Kasus-kasus bunuh diri di kalangan muda sering kali luput dari sorotan, dianggap sebagai tragedi individu semata. Padahal, data menunjukkan ini adalah fenomena sistemik yang butuh perhatian lintas sektor: pendidikan, kesehatan, sosial, dan keluarga.

Kota Bandung telah meningkatkan jumlah skrining dan layanan konseling, namun jumlah psikolog dan psikiater masih belum sebanding dengan kebutuhan.

Di tengah keputusasaan, harapan tetap menyala. Komunitas seperti *Into The Light Indonesia* dan hotline Kemenkes (119 ext 8) menjadi tempat bernaung sementara bagi mereka yang ingin didengar.

Karena di balik angka-angka itu, ada nyawa-nyawa muda yang menunggu satu hal sederhana: dipahami.

Baca Juga:Target 2026 Nol Kemiskinan Ekstrem di Kabupaten Bandung, Cucun Ahmad Tegaskan IniMasih dalam Tahap Penyusunan, Kejati Jabar Belum Kembalikan Berkas Priguna ke Penyidik Polda

“Saya cuma butuh satu orang yang bilang, ‘kamu cukup’,” ucap D lirih. (Dam)

Laman:

1 2
0 Komentar