Berbeda dengan tambang di Sulawesi, yang harus melewati jalur laut dalam dan rute pengapalan yang padat, lokasi Raja Ampat menawarkan biaya transportasi yang lebih murah dan keuntungan yang bisa didapat lebih cepat.
Maka, meskipun pulau-pulau ini kecil dan berada di kawasan lindung, nilai ekonomi dari kandungan nikel dan lokasi yang dekat dengan pusat industri membuatnya tetap menjadi incaran.
Studi global menunjukkan bahwa penambangan nikel di Indonesia menghasilkan jejak kerusakan lahan sebesar 0,7 meter persegi per ton bijih. Artinya, jika di Pulau Gak dieksploitasi sebanyak 40 juta ton bijih, maka sekitar 28 juta meter persegi hutan dan ekosistem telah tergerus,setara dengan 2.800 hektare.
Baca Juga:Fakta Aplikasi ProBintang Skema Ponzi yang Menunggu Waktu ScamBongkar Dalang Penipuan Next 15 Catat Nama Orang-Orang Ini
Dampak dari deforestasi, sedimentasi, dan kerusakan terumbu karang tidak hanya merobek ekosistem, tetapi juga memerlukan biaya yang sangat besar untuk proses pemulihannya. Jumlahnya bahkan bisa berkali-kali lipat dibandingkan pendapatan dari hasil tambang itu sendiri.
Menurut Ketua Indonesian Leadership for Habitat Integrity (ILHI), Prof. Bambang Setiono, kegiatan tambang di pulau kecil ibarat memaksakan beban berat pada wilayah yang sangat rapuh. Ia menjelaskan:
“Pulau-pulau kecil memiliki tingkat kerawanan dan kerentanan yang sangat tinggi karena biasanya berada dalam kondisi terisolasi. Daya dukung lingkungannya rendah, dan daya pulihnya pun sangat terbatas. Jika terjadi perubahan atau degradasi, pemulihannya akan berlangsung sangat lama,bahkan cenderung bersifat permanen. Itu sebabnya kita harus benar-benar memahami substansinya.”
Sejauh ini, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan sikap tegas bahwa mereka tidak akan membiarkan kerusakan terjadi di wilayah yang menjadi rumah bagi 75% spesies terumbu karang dunia.
Ini bukan semata-mata soal nikel. Ini adalah soal bagaimana kita melindungi warisan dunia, agar tidak dikorbankan demi keuntungan sesaat. Apakah kita rela mengambil untung cepat, tapi meninggalkan laut yang rusak secara permanen? Karena sekali Raja Ampat hilang, tidak akan pernah bisa dibeli kembali.
