JABAR EKSPRES – Ketegangan antara Iran dan Israel semakin memanas, memunculkan kekhawatiran global akan potensi konflik besar di kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, menjadi sorotan atas kemungkinan keterlibatannya dalam konflik ini.
Namun, pernyataan-pernyataan Presiden Donald Trump justru menimbulkan tanda tanya besar: apakah AS benar-benar siap membantu serangan Israel ke Iran?
Awalnya, Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tetap berkomitmen pada jalur diplomatik.
Baca Juga:Ini Dia 6 Rekomendasi Mobil Listrik Murah Harga Mulai dari Rp100 JutaanDaftar Harga Emas Hari ini di Pegadaian untuk Emas Antam, UBS, Galeri24 pada Kamis, 19 Juni 2025
Dalam unggahan di platform Truth Social pada hari Kamis, ia menyatakan bahwa “kami tetap berkomitmen pada resolusi diplomatik” terkait program nuklir Iran. Sinyal ini menunjukkan bahwa AS masih membuka pintu perundingan dengan Teheran.
Namun hanya 14 jam setelah itu, situasi berubah drastis. Setelah Israel meluncurkan serangan ke Iran, Trump mengunggah pernyataan bahwa ia telah memberikan batas waktu 60 hari kepada Iran untuk mencapai kesepakatan, dan batas waktu itu telah berakhir.
Lalu pada hari Minggu, ia menyebut bahwa “Israel dan Iran harus membuat kesepakatan,” dan menyatakan siap membantu.
Pernyataan yang bertolak belakang ini menimbulkan spekulasi mengenai posisi sesungguhnya AS dalam konflik tersebut.
Apakah AS hanya menjadi penonton, atau secara diam-diam memberi lampu hijau kepada Israel?
Dalam pernyataan resmi, Trump membantah keterlibatan langsung AS.
“AS tidak ada hubungannya dengan serangan terhadap Iran malam ini,” tulisnya.
Namun menurut Ali Ansari, profesor sejarah Iran dari Universitas St Andrews, sikap AS bisa diibaratkan seperti “mengedipkan mata” kepada Israel.
Baca Juga:BREAKING NEWS! AS Bakal Bantu Israel Serang Iran, Ini Ide yang Akan Dilakukan Donald TrumpUsai Dikukuhkan PWI Pusat, Plt Ketua PWI Kabupaten Bandung Kang Awing Bikin Gebrakan Gelar OKK
Artinya, meskipun tidak terlibat langsung, AS kemungkinan sudah mengetahui rencana serangan dan membiarkannya terjadi.
Israel Khawatir Diplomasi Akan Berhasil
Menurut Kelsey Davenport dari Arms Control Association, posisi Trump menunjukkan bahwa ia menentang penggunaan kekuatan militer saat jalur diplomasi masih terbuka.
Namun, ia juga menyebut bahwa Israel mungkin khawatir bahwa diplomasi akan berhasil dan menghasilkan kesepakatan yang tidak sesuai dengan kepentingan strategis mereka.
Richard Nephew dari Universitas Columbia menambahkan bahwa konsistensi Trump dalam menuju kesepakatanlah yang membuat Israel resah.
Bagi Israel, kesepakatan nuklir bisa membatasi ruang gerak mereka dalam menekan Iran secara militer.
