Dampaknya merambat ke banyak sektor, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan layanan publik. Pedagang seperti Nining (42) harus bertaruh waktu dan cuaca demi bisa berjualan setiap pagi.
“Kalau rakitnya gak ada, saya rugi, gak bisa jualan. Anak saya juga gak sekolah,” tuturnya.
Ironisnya, kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun, dan permintaan warga untuk dibangunnya jembatan penghubung sudah sering disuarakan. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda realisasi, baik dari pemerintah daerah maupun pengelola waduk.
Baca Juga:Anggaran Rp3,2 Miliar untuk 44 Titik PJU Dekoratif, Fokus Terangi Jalan UtamaSampah Menumpuk di TPS Gunung Batu, Pengangkutan Masih Tersendat
Warga berharap, di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur dan pembelanjaan perangkat teknologi oleh para wakil rakyat, pemerintah tidak menutup mata terhadap realita yang mereka hadapi.
“Buat kami, jembatan itu bukan soal kemewahan. Ini soal kehidupan,” tegas Engkos, warga Dusun 02. (Wit)
