Tokoh Masyarakat Kritisi Transparansi dan Subjektivitas Rekrutmen Pimpinan BAZNAS Banjar

Tokoh masyarakat, Dr (Cand) Sulyanati, SH, M.Si, M.Kn.
Tokoh masyarakat, Dr (Cand) Sulyanati, SH, M.Si, M.Kn.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Proses seleksi calon pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Banjar yang tengah memasuki tahap akhir mendapat sorotan kritis dari tokoh masyarakat, Dr (Cand) Sulyanati, SH, M.Si, M.Kn.

Ia mengapresiasi metode seleksi terukur seperti Computer Assisted Test (CAT) dan wawancara, namun menyoroti sejumlah kejanggalan yang berpotensi mengikis kepercayaan publik.

Sulyanati, yang menjabat sebagai Ketua Pengelola Siber University Muhammadiyah Pokja Pangandaran sekaligus Pembina Yayasan Bantu Banjar, menegaskan posisi strategis BAZNAS sebagai lembaga negara pengelola dana umat (Zakat, Infak, Sedekah).

Baca Juga:Sekolah Gratis di Ujung Harapan: Mimpi Anak Bandung dalam Mengenyam PendidikanSat Narkoba Polresta Bogor Kota dan Polres Bogor Gerebek Gudang Produksi Miras Ilegal

“Menjaga kepercayaan umat Islam dan merawat ukhuwah islamiah serta moderasi beragama (wasyatiyah) adalah keniscayaan,” tegasnya saat berbincang dengan Jabar Ekspres, Senin (9/6/2025).

Meski mengapresiasi upaya pengukuran kompetensi intelektual dan pemahaman keagamaan, Sulyanati menyampaikan kegelisahan publik terkait dua hal utama.

“Terdapat fenomena kandidat dengan nilai CAT rendah yang mengalami lonjakan nilai drastis pada tahap wawancara, memicu polemik dan pertanyaan tentang objektivitas penilaian,” katanya.

Kedua soal dominasi kelompok dan afiliasi politik. Lima kandidat teratas didominasi oleh satu kelompok tertentu yang diduga memiliki koneksi personal dengan Panitia Seleksi (Pansel).

“Publik juga mempertanyakan afiliasi politik beberapa kandidat, termasuk mantan caleg Pemilu 2024 yang masih terikat secara struktural dengan partai politik,” tegasnya.

Sulyanati menyoroti dilema yang dihadapi Walikota Banjar sebagai penentu keputusan akhir. Ia mempertanyakan apakah keputusan hanya akan berpatokan pada legalitas formal (seperti pengunduran diri dari partai), atau juga mempertimbangkan hukum progresif yang mencakup norma etika, kepatutan, keadilan, dan etika publik.

“Performa kelembagaan dan kepercayaan umat harus dijaga dengan meminimalisir resistensi publik,” ujarnya.

Baca Juga:Digitalisasi atau Pemborosan? DPRD KBB Beli 50 Tablet Saat Negara Lagi IritPresiden Prabowo Berikan 58 Ekor Sapi Kurban di Kabupaten Bogor

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar generasi dalam kepemimpinan BAZNAS. Kombinasi kandidat tua dan muda dinilai penting untuk menjamin mobilitas program dan regenerasi, sekaligus menepis persepsi BAZNAS sebagai tempat pensiunan.

Beberapa tokoh senior yang sudah mapan, disarankan tetap berperan optimal sebagai tokoh agama.

Sulyanati menegaskan, kolaborasi ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya, bersifat fundamental untuk menjaga harmonisasi.

Ia mengusulkan agar pengisian posisi pimpinan sebaiknya menjadi ranah institusi ormas keagamaan masing-masing, yang kemudian diserahkan kepada Walikota dengan mempertimbangkan hasil seleksi.

0 Komentar