Sampah Plastik Meningkat saat Iduladha, PWI KBB Gaungkan Besek Bambu sebagai Solusi Ramah Lingkungan

Besek bambu menjadi pilihan wadah pembungkus daging kurban oleh PWI KBB, sebagai bentuk komitmen terhadap pengurangan sampah plastik di momen Iduladha. Sabtu (7/6). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Besek bambu menjadi pilihan wadah pembungkus daging kurban oleh PWI KBB, sebagai bentuk komitmen terhadap pengurangan sampah plastik di momen Iduladha. Sabtu (7/6). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Momen Hari Raya Iduladha yang identik dengan pembagian daging kurban kerap menyisakan persoalan lingkungan serius seperti lonjakan sampah plastik.

Apalagi pada momen saat ini, kantong-kantong plastik pembungkus daging memenuhi dapur-dapur warga, menambah beban timbunan sampah domestik yang mengkhawatirkan, terutama di wilayah seperti Kabupaten Bandung Barat dan Jawa Barat pada umumnya.

Melihat keresahan ini, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) berinisiatif menggelar aksi nyata. Mereka menyembelih tiga ekor kambing kurban dan mendistribusikan dagingnya menggunakan besek, wadah tradisional yang terbuat dari anyaman bambu.

Baca Juga:Sapi Kurban Presiden Disembelih di RPH Ciroyom, Pemkot Bandung Perketat PengawasanAktivitas Gempa Vulkanik Menurun, Gunung Tangkuban Parahu Tetap Diawasi Ketat oleh PVMBG

Aksi ini bukan sekadar simbol, melainkan sebuah seruan untuk kembali ke praktik yang lebih ramah lingkungan.

“Setiap tahun, kita menyaksikan bagaimana Iduladha menjadi momen di mana gunung sampah plastik semakin menjulang. Ini adalah ironi, di satu sisi kita berbagi keberkahan, di sisi lain kita mewariskan masalah lingkungan yang tak kalah besar,” ujar Ketua PWI Kabupaten Bandung Barat, Hendra Hidayat saat ditemui di Padalarang, Sabtu (7/6/2025).

Menurutnya, penggunaan besek bambu ini bukan sekadar alternatif, melainkan sebuah keharusan. Bungkus daging dari besek bambu dinilai sebagai materi yang berkelanjutan.

“Besek ini biodegradable, bisa terurai dengan sendirinya, tidak seperti plastik yang membutuhkan ratusan tahun. Ini adalah jawaban konkret atas persoalan yang terus berulang,” tegasnya.

Hendra juga menekankan selain berangkat dari masyarakat yang sadar lingkungan, pemerintah juga musti berperan salah satunya menekan melalui regulasi dan infrastruktur penyelesaian sampah yang disiapkan.

“Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri, dari rumah tangga. Tapi, pemerintah juga harus hadir dengan kebijakan yang mendukung, bukan hanya retorika,” sebutnya.

Persoalan sampah di Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bandung Barat, bukanlah isu baru. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, yang menjadi tumpuan bagi beberapa wilayah di Bandung Raya, kerap dilanda krisis.

Baca Juga:Iduladha Ramah Lingkungan: Masjid Agung Cimahi Gunakan Besek Gantikan PlastikPengadaan Tablet DPRD KBB Disorot, Pengamat Politik: Efisiensi Digital atau Abaikan Prioritas?

Kebakaran hebat dan kelebihan kapasitas adalah pemandangan yang berulang, menunjukkan betapa daruratnya kondisi pengelolaan sampah di daerah.

Data menunjukkan bahwa sampah domestik, di mana plastik menjadi komponen dominan, terus meningkat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2023 mencatat bahwa timbulan sampah nasional mencapai sekitar 35,9 juta ton per tahun, dengan komposisi plastik mencapai 18,3%. Angka ini tentu berpotensi melonjak drastis saat momen-momen konsumsi tinggi seperti hari raya.

0 Komentar