Krisis Pendidikan Seks di Indonesia Akibat Fatwa Haram yang Menyimpang

Krisis Pendidikan Seks di Indonesia
Krisis Pendidikan Seks di Indonesia
0 Komentar

Kita menolak segala hal yang berbau seks di ruang publik, namun ironisnya, setiap minggu kita disuguhi berita pelecehan yang terjadi di sekolah oleh guru, di pesantren yang notabene tempat pendidikan agama, dan di kampus yang seharusnya menjadi garda terdepan peradaban.

Ironi ini tidak berhenti di sana. Kita bahkan menempati peringkat dua sebagai negara dengan jumlah pengunjung situs dewasa terbanyak di dunia. Kita mencitrakan diri sebagai bangsa yang suci, namun pada kenyataannya kita sering kali gagal menjaga integritas dan moralitas. Kita mudah menghakimi, tapi enggan untuk introspeksi.

Kami sendiri heran, mengapa topik tentang seks begitu tabu di lingkungan kita? Pendidikan seks seolah menjadi hal yang haram untuk dibicarakan. Selama 16 tahun menempuh pendidikan formal, saya tidak pernah menerima satu pun sesi khusus yang membahas isu ini secara terbuka dan edukatif—padahal sangat penting untuk dipahami sejak dini.

Baca Juga:4 Cara Ampuh Menurunkan Kolesterol Tinggi Secara Alami Setelah Idul AdhaHonda Genio Kalah Saing Terjepit Antara Beat, Scoopy, dan Vario

Baru-baru ini, masyarakat dikejutkan dengan temuan ratusan pelajar SMP dan SMA yang mengalami kehamilan di luar nikah di Ponorogo, Jawa Timur. Fakta ini semestinya membuka mata kita semua: bahwa pengabaian terhadap pendidikan seks bukan hanya kelalaian, melainkan juga kegagalan sistemik yang perlu segera dibenahi.

Kita tentu masih ingat bagaimana ratusan siswi di Ponorogo mengajukan dispensasi ke sekolah masing-masing untuk menikah, setelah mengalami kehamilan di luar nikah akibat melakukan hubungan seksual di usia sekolah. Ini jelas merupakan masalah yang sangat kompleks.

Jika kita berbicara soal kebebasan seksual, tidak dapat dipungkiri bahwa negara-negara Barat merupakan pelopornya dalam dunia modern. Namun, yang menarik dan ironis adalah bahwa meskipun negara-negara Barat menjadi pelopor kebebasan seksual, justru negara-negara di kawasan Timur dan Selatan yang mengalami dampak paling besar dari fenomena ini.

Sebagai contoh, jika kita anggap bahwa salah satu dampak dari kebebasan seksual adalah penyebaran penyakit menular seksual, maka data global menunjukkan bahwa kasus penyakit menular seksual tertinggi justru terjadi di negara-negara Timur dan Selatan. Bukan di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, yang notabene lebih terbuka terhadap isu seksualitas.

0 Komentar