JABAR EKSPRES– Forum Kepala Sekolah SMA Swasta (FKSS) Jabar turut merespon kebijakan masuk sekolah lebih pagi yang bakal diterapkan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Menurutnya, tidak semua sekolah bisa menerapkan masuk pukul 06.30.
Ketua FKSS Jabar Ade D. Hendriana menuturkan, titah itu juga telah disampaikan secara resmi melalui Surat Edaran (SE). Lalu pihaknya juga telah banyak berdialog dengan sejumlah kepala sekolah swasta yang tergabung dalam FKSS.
Dari diskusi itulah, mencuat bahwa kebijakan itu memunculkan keberatan bagi sejumlah sekolah di Jabar. “Kalau sekolah swasta di Jabar, ada yang bisa melaksanakan dan ada yang tidak,” jelasnya.
Baca Juga:Komitmen Dirjen Perkeretaapian Dipertanyakan, Pemkot Bogor Desak Percepatan Penanganan Longsor BatutulisPolres Banjar Panen Jagung, Dongkrak Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Ade melanjutkan, secara prinsip kebijakan itu sebenarnya ada nilai positifnya. Yakni untuk meningkatkan disiplin dan efektivitas pembelajaran siswa. “Sisi lainnya, kebijakan itu kurang manusiawi secara biologis,” cetusnya.
Ade menjabarkan, kebijakan itu bisa memberikan sejumlah dampak positif. Di antaranya soal kedisiplinan peserta didik. Kemudian pembelajaran yang lebih segar karena dimulai lebih awal. Termasuk bisa menekan kemacetan jalan karena siswa datang lebih awal.
Sementara sisi lainya bisa berdampak pada kesehatan peserta didik. Misalnya karena kurang tidur, risiko dalam perjalanan, hingga kehilangan waktu untuk sarapan atau olah raga.
Ade menambahkan, sekolah di Jabar belum sepenuhnya merata. Siswa di sejumlah wilayah ada yang membutuhkan waktu perjalanan ekstra mengingat lokasi sekolah yang jauh. “Kalau yang jauh gitu, berarti bisa pukul 04.00 harus sudah berangkat,” katanya.
Aspek lain adalah kesiapan transportasi publik. Biasanya angkutan umum baru beroperasi sekitar pukul 06.00. Jika ada kebijakan masuk lebih pagi maka hal tersebut juga perlu dikoordinasikan dengan Dinas Perhubungan. Sehingga bisa mengintervensi angkutan umum untuk beroperasi lebih pagi.
Ade melanjutkan, di sejumlah satuan pendidikan juga memiliki keterbatasan ruangan. Sehingga mereka harus berbagi ruang. “Lalu masalah kamar mandi, kalau satu keluarga ada 3 anak sekolah masuk pagi semau, mereka juga kerepotan,” bebernya.(son)
