JABAR EKSPRES – Hujan monsun deras yang melanda Cox’s Bazar, wilayah pesisir tenggara Bangladesh, telah menyebabkan kerusakan parah di kamp pengungsian Rohingya. Menurut laporan UNHCR pada Senin (2/6), lebih dari 1.400 rumah pengungsi hancur akibat cuaca ekstrem tersebut.
Dalam dua hari terakhir, tercatat 53 insiden tanah longsor di 33 kamp pengungsian, menyebabkan satu korban jiwa karena runtuhan dinding, serta 11 orang lainnya terluka akibat sambaran petir.
UNHCR menyebut bencana ini kembali menggarisbawahi kebutuhan mendesak para pengungsi Rohingya yang tinggal di wilayah rentan dan padat. Saat ini, lebih dari 1,3 juta pengungsi menetap di distrik Cox’s Bazar, sebagian besar di antaranya datang setelah kekerasan militer Myanmar pada tahun 2017.
Baca Juga:7 Tanaman Hias Minimalis Estetik untuk Taman Depan Rumah14 Daftar Harga Koin Kuno Indonesia Terbaru 2025
Juliet Murekeyisoni, Perwakilan Sementara UNHCR di Bangladesh, menjelaskan bahwa kombinasi antara lereng curam, banjir, dan tempat penampungan yang terbuat dari bahan seadanya seperti bambu dan terpal sangat berisiko, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem.
Selain risiko lingkungan, kekurangan pendanaan juga menjadi hambatan besar dalam upaya kemanusiaan. UNHCR mengungkapkan bahwa krisis dana yang parah membatasi kemampuan organisasi kemanusiaan dalam mempersiapkan dan merespons bencana secara optimal.
Gwyn Lewis, Koordinator Residen PBB, menegaskan bahwa kesiapan menghadapi musim monsun bukan hanya soal antisipasi, tetapi juga soal menyelamatkan nyawa.
Biasanya, persiapan musim hujan dimulai sejak sebelum Mei, namun tahun ini berbagai lembaga bantuan tidak dapat menjalankannya karena minimnya dukungan finansial.
Kondisi ini membuat jutaan pengungsi Rohingya semakin rentan terhadap ancaman bencana alam, sekaligus memperkuat seruan akan perlunya dukungan internasional yang lebih besar dan segera.*
