JABAR EKSPRES – Upaya pengamatan hilal awal Dzulhijjah 1446 Hijriah di Observatorium Albiruni, Kota Bandung, pada Selasa (27/5) tidak membuahkan hasil.
Hilal tak berhasil terlihat akibat awan tebal yang menyelimuti ufuk barat menjelang waktu magrib.
“Pengamatan hari ini tidak berhasil disebabkan beberapa faktor. Karena awan tebal sekitaran ufuk,” kata Kepala Observatorium Albiruni, Encep Abdul Rojak, usai pengamatan.
Baca Juga:Hilang 3 Hari Terseret Arus Sungai Cipelang, Warga Ujungjaya Sumedang Ditemukan Tak BernyawaBupati Bogor Rudy Susmanto Resmikan PSC 119 Perkuat Layanan Kesehatan Terpadu
Secara hisab, hilal di Bandung berada pada ketinggian 1 derajat 55 menit dengan elongasi 6 derajat lebih dan azimut 297 derajat.
“Sudah mencukupi sebetulnya, namun ketinggian masih di bawah 3 derajat. Hari ini memang di bawah 2 derajat,” ujar Encep.
Kegiatan rukyat ini merupakan bagian dari kerja sama Fakultas Syariah Unisba dengan Kementerian Agama Jawa Barat, Badan Hisab dan Rukyat Daerah, serta Baznas Jawa Barat.
Lokasi pengamatan berada di lantai 9 Gedung Fakultas Kedokteran Unisba, di ketinggian 750 meter di atas permukaan laut.
Alat utama seperti teleskop jenis go-to, teleskop manual, dan kamera CCD telah disiapkan dan dikalibrasi sejak pukul 14.00 WIB.
“Alat yang digunakan sudah disiapkan jam 2 siang, sudah dikalibrasi,” kata Encep.
Dia menambahkan, sebanyak 90 orang, termasuk masyarakat umum, ikut menyaksikan proses pengamatan melalui layar besar yang menampilkan hasil kamera CCD secara langsung.
Baca Juga:PMK Masih Nihil di Kota Bandung, DKPP Klaim Antisipasi Sejak JauhDPMPTSP Hadirkan Gerai Pelayanan Publik di Bogor Barat, Warga Tak Perlu Lagi ke Cibinong
“Cuaca sudah mendukung di sore hari tapi menjelang pengamatan cukup tebal di ufuk sehingga terganggu pengamatan kita,” katanya.
Pengamatan dilakukan mulai matahari terbenam pukul 17.45 hingga hilal terbenam pada 17.55 WIB.
Berdasarkan posisi hisab, hilal berada di sebelah kanan (utara) matahari, dengan jarak sudut atau elongasi sekitar 6,6 derajat. Namun, secara visual, bulan muda itu tak tampak dari Bandung.
Hasil rukyat dari seluruh wilayah Indonesia akan menjadi bahan pertimbangan sidang isbat Kementerian Agama untuk menetapkan awal Dzulhijjah.
“Hasil kita sampaikan ke Kementerian Agama. Dari 11 titik, tidak terlihat,” pungkasnya.
