Leone Sierra Leone – Inflasi Tinggi, Nilai Mata Uang Melemah
Di urutan keempat terdapat Leone, mata uang resmi Sierra Leone, yang termasuk salah satu mata uang dengan nilai tukar terendah di dunia. Inflasi yang tinggi, mencapai 43% pada April, mencerminkan lemahnya kondisi ekonomi negara dan tingginya utang luar negeri. Saat ini, nilai tukar 1 dolar Amerika setara dengan 17,66 leone.
Tingkat inflasi di Sierra Leone pun masih tergolong tinggi. Pada Januari 2025, inflasi mencapai 14,3% dan diperkirakan akan meningkat menjadi 18% pada akhir kuartal ini. Situasi ini memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar dan stabilitas ekonomi negara tersebut.
Pound Lebanon – Krisis Ekonomi yang Tak Kunjung Usai
Selanjutnya adalah Pound Lebanon (sering disingkat lira), yang juga mengalami pelemahan tajam. Saat ini, 1 dolar Amerika dihargai sekitar 15.010 pound Lebanon. Nilai tukar ini terus merosot akibat berbagai krisis yang melanda negara tersebut, mulai dari keterpurukan ekonomi, tingkat pengangguran yang tinggi, krisis perbankan yang berkepanjangan, kekacauan politik, hingga inflasi yang tidak terkendali.
Baca Juga:10 Tempat Wisata Jakarta Terkeren Pada Tahun 20259 Batu Permata Termahal di Dunia Ini Dijual Hingga Miliaran per Karat
Menurut laporan dari UNDP pada akhir 2024, tingkat pengangguran di Lebanon diperkirakan melonjak drastis hingga 32,6% akibat krisis ekonomi yang terus berlangsung dan eskalasi konflik yang terjadi sepanjang tahun tersebut. Hal ini turut memperburuk tekanan terhadap nilai tukar pound Lebanon.
Rupiah Indonesia – Tertahan oleh Tekanan Global dan Tantangan Domestik
Indonesia saat ini termasuk dalam daftar negara dengan mata uang bernilai cukup rendah. Untuk mendapatkan 1 dolar Amerika, masyarakat perlu merogoh kocek sekitar Rp16.190 hingga Rp17.200, tergantung situasi pasar.
Pelemahan nilai tukar rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, terutama tekanan ekonomi global yang masih terasa sejak masa pandemi, diikuti oleh konflik geopolitik seperti perang Rusia–Ukraina serta ketegangan di Timur Tengah yang menyebabkan harga komoditas berfluktuasi secara tidak menentu.
Selain faktor global, tantangan dalam negeri juga turut memberikan kontribusi. Mulai dari defisit transaksi berjalan, ketergantungan pada impor untuk beberapa sektor penting, hingga masih terbatasnya hilirisasi industri yang dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia.
