Wahyu menegaskan, pendekatan inspiratif harus lebih dominan dalam proses edukasi sampah, bukan sekadar informatif. Jika hal ini yang menjadi akar masalah, Perbanusa siap berkolaborasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.
“Kami siap bantu agar bank sampah unit hadir di tiap RW (312 RW), serta produktif mengedukasi warganya. Targetnya, 80 persen warga Cimahi bisa mengelola sampahnya sendiri,” jelas Wahyu.
Ia juga menekankan bahwa materi yang disampaikan para edukator sebaiknya merujuk pada praktik terbaik masa kini, bukan sekadar teori lama yang sudah usang dan standar.
Baca Juga:Sungai di Kecamatan Citeureup Sempat Terkontaminasi, Sastra Winara Tekankan Pentingnya Tanggung Jawab Perusahaan Jaga LingkunganSLBN A Padjajaran Direnovasi untuk Sekolah Rakyat, Siswa Pindah Sementara lalu Belajar Bersama
“Kami menyambut gembira apabila DLH berkenan kolaborasi untuk melakukan perubahan nyata ini,” ujarnya.
Mengenai sistem hari organik dan anorganik, Wahyu menilai konsep ini bisa terus disesuaikan dengan efektivitas edukasi di lapangan.
“Ke depan, komposisinya tidak harus satu banding satu atau berseling satu hari. Kalau edukasi efektif, hari organik bisa dikurangi, hari anorganik bisa ditambah variasinya,” tutupnya. (Mong)
