Jamaah sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah
Teladan dari Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Selain dari pengorbanan yang dilakukan oleh generasi awal manusia di dunia, sejarah kurban yang dilakukan umat Islam pun tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seorang nabi yang amat bertakwa.
Di mana Nabi Ibrahim benar-benar menjalankan perintah Allah Ta’ala, meskipun perintah tersebut di luar kebiasaan dan nalar manusia, yaitu menyembelih anaknya sendiri.
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Ash-Shaffat ayat 103—105,
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ، وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ، قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ
“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya),(untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia,‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Urgensi Ibadah Qurban Bagi Umat Islam
Jamaah sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah
Baca Juga:aMayzing AHASS, Program Servis Spesial untuk Konsumen Honda di Jawa BaratJKN Menjadi Penolong Mahasiswa di Perantauan
Dari kisah Qabil dan Habil serta kisah Nabi Ibrahim tersebut, dapat disimpulkan bahwa kurban merupakan ibadah yang bernilai sangat tinggi. Sehingga, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berkurban sebagai bukti akan kecintaan dan ketakwaan mereka kepada-Nya.
Untuk itu setidaknya ada tiga urgensi kenapa kita perlu berkurban.
Pertama: Sebagai Bukti Ketakwaan
Keimanan serta ketakwaan seseorang tentu membutuhkan bukti nyata, yaitu berupa pengorbanan yang dilakukan. Untuk itu, syariat qurban merupakan bukti ketakwaan seseorang, dan melaksanakannya pun harus dilandasi dengan keimanan serta ketakwaan kepada Allah.
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat al-Hajj ayat 37,
لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
Kedua: Sebagai Bentuk Rasa Syukur
Bentuk rasa syukur seseorang atas segala nikmat yang telah Allah karuniakan adalah dengan cara menggunakan nikmat tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Untuk itu, kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah karuniakan pada diri kita, baik yang terlihat, seperti mata, telinga, tangan, dan kaki ataupun yang tidak terlihat, seperti pembuluh darah, syaraf, dan sel merupakan nikmat yang patut untuk kita syukuri.
