Seminar Internasional FISIP Unpas Perkuat Kolaborasi Global

SEMINAR: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema "Innovative Approaches to Advancing the SDGs: Integrating Policy, Practice and Progress" di Aula Suradiredja, FISIP Unpas, Senin, 19 Mei 2025.
SEMINAR: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema "Innovative Approaches to Advancing the SDGs: Integrating Policy, Practice and Progress" di Aula Suradiredja, FISIP Unpas, Senin, 19 Mei 2025.
0 Komentar

Kemudian, Prof. Dr. Ahmad Rozelan Bin Yunus dari UniSHAMS menekankan pentingnya kerja sama jangka panjang, termasuk pertukaran dosen dan mahasiswa.

“Setiap individu unik, dan konferensi ini membantu kita memahami potensi kolaborasi dalam keragaman itu,” tuturnya saat wawancara.

Dalam sebuah seminar yang membahas isu-isu strategis terkait pembangunan berkelanjutan, Prof. Drs. Adi Fahrudin, S.Psi., M.Soc.Sc., Ph.D, dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, mengangkat tema penting tentang “Psychosocial Resilience” atau ketahanan psikososial.

Baca Juga:Jelang Iduladha, Legislator PSI Sambut Baik Pasar Murah di BandungGendrang Perang Melawan Premanisme di Bandung Kulon, Polisi Tangkap Pelaku Pungli di Taman Holis Indah

Adi menyampaikan bahwa seminar intenasional ini diharapkan dapat menjadi ruang diskusi sekaligus solusi, khususnya untuk mendorong kontribusi nyata dalam pencapaian target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

“Melalui seminar ini, saya berharap kita bisa mencari cara bersama untuk memberikan kontribusi yang nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Prof. Adi juga membahas mengenai “Psychosocial Resilience” menyoroti bagaimana tantangan kesehatan mental yang berpadu dengan kesulitan ekonomi dapat menimbulkan dampak serius bagi masyarakat, terutama bagi kelompok marginal. Ia menekankan bahwa kelompok ini seringkali menjadi pihak yang paling terdampak dan memiliki keterbatasan akses terhadap bantuan yang memadai.

Nah, terkait dengan yang saya sampaikan mengenai psychosocial resilience, kita harus menyadari bahwa ketika masalah kesehatan mental dan kesulitan ekonomi bertemu, maka dampaknya sangat buruk bagi masyarakat. Kelompok marginal khususnya, mereka terdampak secara langsung dan sangat sulit untuk mendapatkan bantuan,” jelasnya.

Seminar internasional ini menjadi tonggak penting dalam penguatan komitmen kampus dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui kontribusi ilmu sosial dan kebijakan publik. (bbs)

0 Komentar