JABAR EKSPRES – Pembangunan Foodcourt Alun-Alun Ciamis senilai Rp34 miliar, yang diresmikan April 2025, menuai kritik tajam dari pengunjung, pedagang, dan pengamat. Meski digadang-gadang sebagai ikon baru kuliner dan ruang publik strategis, proyek hibah Banprov Jabar ini justru dianggap gagal memenuhi standar kenyamanan dasar, terutama saat hujan.
Pengunjung mengeluhkan genangan air hujan yang kerap membanjiri area foodcourt akibat sistem drainase tidak maksimal. Saluran air yang tersumbat sampah memperparah kondisi, membuat pedagang dan pengunjung harus berjibaku dengan cipratan dan genangan air.
“Harus ada evaluasi,” ujar seorang pedagang anonim, Kamis (15/5/2025).
Persoalan lain adalah minimnya meja dan kursi. Hanya 184 kursi disediakan untuk kapasitas 102 kios, padahal foodcourt dirancang untuk menampung banyak pengunjung. Dinas Perumahan Rakyat (DPRKPLH) Ciamis membantah kekurangan ini, menyebut area luar foodcourt bisa dimanfaatkan. Namun, argumen ini dinilai mengabaikan prinsip kenyamanan publik. “Ini konsekuensi semi-outdoor,” kata Sekretaris DPRKPLH Aris Taufik Abadi.
Baca Juga:Jeje Ritchie Kebut Pembentukan 165 Koperasi Merah Putih, Target Selesai Akhir MeiMeski Peternak Lebih Selektif, DKPP Bandung tetap Waspadai Perdagangan Hewan Kurban
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengakui proyek ini belum 100% selesai. Beberapa fasilitas, seperti eskalator untuk lansia dan perbaikan atap anti-hujan, tertunda karena kekurangan anggaran Rp7 miliar. “Gubernur Jabar akan membantu,” ujarnya.
Namun, klaim ini memantik pertanyaan: mengapa proyek diresmikan padahal belum layak operasional?
Pengamat fasilitas publik Endri Herlambang menilai masalah ini mencerminkan kegagalan perencanaan.
“Daerah sering menerima proyek hibah provinsi yang bukan prioritas. Saat bermasalah, beban jatuh ke daerah,” tegasnya.
Ia menduga fenomena serupa terjadi di banyak daerah, di mana proyek fisik lebih diprioritaskan ketimbang kebutuhan riil masyarakat.
Endri juga mendesak lembaga seperti Ombudsman dan BPKP menyelidiki indikasi penyimpangan. “Jika drainase saja tak dihitung, bagaimana dengan alokasi dana lainnya?” tanyanya.
Pemerintah kabupaten membanggakan desain semi-outdoor untuk sirkulasi udara. Namun, konsep ini terbukti tidak ramah cuaca. Pengunjung terpaksa berebut tempat duduk atau berteduh saat hujan. Padahal, foodcourt ini disebut sebagai ‘wajah baru’ Ciamis yang modern.
Proyek ini merupakan bagian dari Revitalisasi Tahap 2 Alun-Alun Ciamis, dengan tujuan menertibkan pedagang kaki lima dan parkir kendaraan.
Baca Juga:Ngatiyana Tegaskan Dukungan Koperasi Merah Putih demi Kesejahteraan Warga CimahiKinerja Pansel BAZNAS Kembali Disorot, Integritas dan Marwahnya Dipertaruhkan!
Kritik terhadap foodcourt ini menjadi ujian bagi Pemkab Ciamis dan Pemprov Jabar. Masyarakat menuntut transparansi anggaran dan perbaikan segera. Jika tidak, ikon baru ini berisiko menjadi simbol pemborosan APBD, bukan kebanggaan publik. (CEP)
