Meski Peternak Lebih Selektif, DKPP Bandung tetap Waspadai Perdagangan Hewan Kurban

Ilustrasi: Dokter Hewan DKPP Kota Bandung memberikan injeksi vitamin pada calon hewan Qurban di Peternakan Sapi kawasan Pasanggrahan, Kota Bandung.
Ilustrasi: Dokter Hewan DKPP Kota Bandung memberikan injeksi vitamin pada calon hewan Qurban di Peternakan Sapi kawasan Pasanggrahan, Kota Bandung.
0 Komentar

JABAR EKSPRES  — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mencatat adanya kecenderungan penjual hewan kurban menunda memasukkan ternak ke Bandung pada tahun ini.

Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menyebut, penyebabnya adalah kekhawatiran berulangnya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang ini kita lihat mereka lebih hati-hati. Masuknya hewan ke Kota Bandung belum banyak karena mereka khawatir dengan PMK,” kata Gin Gin saat dikonfirmasi Jabar Ekspres, belum lama ini.

Baca Juga:Ngatiyana Tegaskan Dukungan Koperasi Merah Putih demi Kesejahteraan Warga CimahiKinerja Pansel BAZNAS Kembali Disorot, Integritas dan Marwahnya Dipertaruhkan!

Menurut Gin Gin, para peternak kini lebih selektif dalam memilih ternak yang akan dibawa ke Kota Bandung. Biasanya mereka mendatangkan hewan empat bulan sebelumnya untuk digemukkan.

“Mereka minta pendampingan dan pemeriksaan ulang sebelum memasukkan hewan ke Bandung,” katanya.

DKPP telah bekerja sama dengan peternak asal daerah pengirim untuk memperketat pengawasan administratif dan teknis. Pengalaman wabah PMK tahun 2022 membuat distribusi ternak kali ini lebih terkendali.

“Dulu PMK menyebar karena keluar masuk hewan tidak terdeteksi. Sekarang kami koordinasi sejak awal,” ujar Gin Gin.

Untuk mendukung upaya itu, DKPP melibatkan 150 orang petugas ditambah 50 mahasiswa Telkom University. Pemeriksaan kesehatan juga akan disertai penggunaan “kalung sehat” yang bisa dipindai masyarakat sebagai bukti kelayakan hewan kurban.

Dia mengaku, peternak pun saat ini lebih aktif berkomunikasi dengan DKPP untuk memastikan ternaknya bebas dari gejala penyakit. “Sekarang mereka lebih responsif. Mereka belajar dari pengalaman tahun lalu,” pungkasnya.

0 Komentar