Sarah membawakan gerakan dari kesenian berokan, tarian khas tanah kelahirannya yang mengeksplorasi kekuatan tubuh dan ekspresi magis. Tarian yang ditampilkan pun beragam.
Deden menjelaskan, ada yang mengeksplorasi gerakan silat, lainnya mengangkat tradisi lokal dari masing-masing daerah. Tak ada batas antara panggung dan penonton.
Sesekali, anak-anak kampung ikut menari, menirukan gerak para penari, tertawa, lalu bertepuk tangan. Acara ini bukan semata soal pertunjukan.
Baca Juga:Bank BJB Cabang Banjar Ungkap Penurunan Alokasi CSR untuk Pemkot BanjarClean Up Cimahi Hasilkan 544 Ton Sampah, DLH: tapi Warga Masih Buang Sampah Sembarangan
Bagi Deden dan komunitasnya, ini adalah bentuk peringatan terhadap abainya ruang publik terhadap seni. Dia ingin tari hadir langsung di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai tontonan, tapi juga perayaan.
“Harapannya masyarakat tahu bahwa seni tari itu punya hari jadi. Dan mereka ikut merayakannya,” pungkasnya.
