Masalahnya terletak pada tingkat bunga yang sangat tinggi, yaitu antara 365% hingga 876% per tahun, dengan tenor yang sangat pendek: hanya 7 hingga 29 hari. Yang lebih mengkhawatirkan, Opera diduga menyembunyikan informasi tersebut dan justru mengiklankan bunga yang lebih rendah serta jangka waktu pinjaman yang lebih panjang.
Tak hanya itu, isu privasi juga menjadi sorotan. Setelah diakuisisi oleh perusahaan asal Tiongkok, Opera diduga harus mematuhi regulasi di sana. Seorang YouTuber bernama Cubik bahkan membuktikan bahwa browser Opera meminta akses lokasi pengguna yang sangat akurat, hingga bisa mengetahui kode pos dan kontak pribadi pengguna.
Yotta
Di luar negeri, banyak YouTuber yang sempat mempromosikan Yotta—sebuah aplikasi keuangan berbasis fintech yang serupa dengan Gopay, OVO, atau DANA di Indonesia. Yotta menjanjikan keuntungan hingga 4% per tahun serta kesempatan memenangkan hadiah hingga Rp163 miliar setiap minggu.
Baca Juga:Alasan Honda Brio jadi Mobil Terlaris hingga Saat Ini Padahal Begini FiturnyaDaftar 7 HP Gaming Murah Terbaik Pada 2025
Namun, pada bulan Juni 2024, perantara keuangan mereka mengajukan kebangkrutan, menyebabkan dana dari sekitar 85.000 pengguna terkunci di dalam aplikasi, dengan total kerugian mencapai Rp1,8 triliun.
Yotta kemudian menyalahkan mitra bank mereka, Evolve Bank, yang dituduh mengambil dana sebesar 2 juta dolar AS tanpa izin. Namun, permasalahan ini ternyata lebih kompleks karena melibatkan banyak pihak, sehingga sulit menentukan siapa yang bertanggung jawab atas dana nasabah.
Akibatnya, banyak pengguna yang merasa ditipu dan memilih untuk menempuh jalur hukum guna memperjuangkan hak mereka.
Pie
Endorse terburuk juga pernah dilakukan Pie dan menipu para penggunanya termasuk para influencer. Ada layanan baru bernama Pie yang menawarkan insentif berupa uang bagi pengguna yang memblokir iklan atau bahkan menonton iklan secara sukarela. Sekilas terdengar menarik, bukan? Namun yang cukup ironis, layanan pemblokir iklan ini justru beriklan melalui para YouTuber.
Yang perlu menjadi perhatian adalah kemungkinan bahwa sistem kerja Pie mirip dengan Honey, yaitu mengalihkan pendapatan dari kreator ke kantong mereka sendiri. Apalagi, sebagian besar tim pengembang Pie diketahui pernah bekerja di Honey.
Hal ini menimbulkan dugaan bahwa iklan yang diblokir tidak benar-benar dihilangkan, melainkan justru dialihkan agar keuntungannya masuk ke Pie, bukan ke kreator kontennya.
