PTPN I Regional II Ungkap KSO Eiger Camp di Sukawana Parongpong

Region Head PTPN I Regional II, Desmanto. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Region Head PTPN I Regional II, Desmanto. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES  – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional II menyatakan lahan teh Sukawana di Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tidak sepenuhnya produktif.

Berdasarkan data yang dimiliki PTPN I Regional II, lahan teh Sukawana di Desa Karyawangi seluas 250 hektare. Namun dari jumlah luas tersebut tak sepenuhnya produktif. Sehingga 48 hektare dipilih untuk di kerja samakan dengan perusahaan.

Selain itu, lahan tersebut merupakan Kawasan Strategis Nasional Taman Wisata Alam (TWA) Tangkuban Parahu. Hal ini yang menjadi dasar PTPN I melakukan pengembangan wisata di perkebunan teh Sukawana melalui Kerja Sama Operasional (KSO) dengan PT Eigerindo Multi Produk Industri.

Baca Juga:Update Kasus Dokter Residen RSHS: Polisi Lakukan Olah TKP Ulang di Lantai 7 Gedung MCHCWarga Cimahi Keluhkan RSUD Cibabat, Wali Kota: Tidak Boleh Ada Pelayanan Setengah-Setengah!

“Mengacu kepada aturan pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 karena ini masuk Kawasan strategis Nasional Tangkuban Parahu. kerja sama ini dimulai sejak 2021 dan akan berakhir pada tahun 2026. Namun untuk saat ini tengah dalam proses perpanjangan perjanjian,” kata Region Head PTPN I Regional II, Desmanto, Sabtu (12/4/2025).

Diketahui aktivitas pembangunan Eiger Camp yang berlokasi di perkebunan teh Sukawana menjadi sorotan beberapa waktu lalu, lantaran aktivitas ini dinilai merusak lingkungan di Kawasan Lindung Resapan Air Bandung Utara (KBU). Namun menurutnya daerah ini masuk dalam kawasan pengembangan wisata Tangkuban Parahu.

“Di kerja samakan dalam rangka mengoptimalkan aset, karena di daerah ini tidak semua tanamannya berkembang baik. Tapi yang baik tetap kita jaga di bawah. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) baru untuk pembangunan Eiger Camp hanya sekitar 1,45 persen dari 48 hektare KSO,” ujar dia.

“Tanaman di kawasan ini sudah ada sejak tahun 1950. Artinya, sudah berusia 70 hingga 80 tahun, bahkan ada yang 100 tahun. Kondisinya ada beberapa yang kosong dan mati. Itulah yang kita optimalkan. Beberapa daerah garapan juga kita kerja sama dengan Eiger seperti di Bogor,” tambahnya.

Deswanto menjelaskan, kawasan tersebut merupakan lahan garapan dengan luas hampir 70 hektare. Namun seringkali mengalami kerugian karena tidak semua tanaman tumbuh baik.

Menurutnya sejak di kerja samakan banyak dampak positif, selain pemasukan untuk negara juga tambahan tenaga kerja masyarakat sekitar.

0 Komentar