“Yang datang bukan cuma ingin lihat-lihat. Banyak yang ingin tahu betul proses cetaknya seperti apa. Dan mereka pulang dengan wawasan baru,” ucap Dzikri.
Pabrik ini bukan hanya menunjukkan proses teknis. Tapi juga mengenalkan sejarah dan peran ulama dalam menjaga mushaf sejak masa lalu. “Supaya masyarakat sadar, mushaf ini buah dari pemikiran panjang para ulama. Dan prosesnya sangat dijaga,” katanya.
Syamil berharap, kunjungan ini bisa menumbuhkan rasa cinta yang lebih dalam terhadap Al-Qur’an. “Bukan cuma tahu cetaknya rapi. Tapi juga makin semangat untuk membaca dan mengamalkan isinya,” pungkasnya.
