Menariknya, dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 187, Allah Swt tidak hanya memberikan panduan aturan bahwa puasa hanya bertumpu pada menahan diri dari makan dan minum. Namun, Allah Swt justru membawa gambaran kasus hubungan suami istri secara dominan.
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤﯨِٕكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لهَّنَُّ عَلِمَ اﻟٰﻠﻪُّ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانوُْنَ اَنْفُسَكُمْ
فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ
“Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu.”
Penggambaran ini tidak hanya bisa dipahami secara tekstual tapi juga metaforis bahwa seksualitas yang sangat berkaitan dengan emosi dan pikiran menjadi tantangan yang begitu besar bagi orang yang berpuasa.
Baca Juga:Cara Dapat Uang di Bulan Ramadhan Hingga Rp144.000 Perjam, Hanya Pake HP DoangBacaan Sholawat Ibrahim, Paling Dasyat Dibaca Hari Jumat di Bulan Ramadhan
Maka puasa Ramadan merupakan kawah candradimuka bagi umat Islam untuk mampu mengelola emosi serta pikirannya dengan baik sehingga mampu menata dirinya untuk menjalani hidup dengan positif dan produktif. Dalam hal ini, latihan kesabaran dan kemampuan mengelola diri dari sisi internal benar-benar diuji.
Jemaah Jum’at rahimakullah,
Selanjutnya dua sabda Nabi Muhammad saw dalam hadisnya menekankan betapa pentingnya puasa Ramadan sebagai wasilah untuk menjalani hidup yang positif dan produktif, serta mengelola diri tidak hanya dari gangguan internal, melainkan juga eksternal sebagaimana berikut:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ فَلَيْسَ ﻟِﻠﻪَِّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه .
“Siapapun yang tidak mampu meninggalkan tutur lisan maupun perbuatan yang sia-sia (tidak bermakna) serta bertindak bodoh (maupun kebodohan itu sendiri), maka Allah Swt tidak memiliki kepentingan (tidak memberi apresiasi) terhadap orang yang meninggalkan makan dan minumnya (berpuasa).”
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِ لَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِيّ
صَائِمٌ، إِنِيّ صَائِمٌ .
“Puasa tidak hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, tapi puasa yang sesungguhnya ialah menahan diri dari tutur lisan yang sia-sia (tidak bermakna) dan kotor/keji. Jika ada seseorang yang mencelamu atau bertindak bodoh terhadapmu, maka katakanlah: ‘aku berpuasa’, ‘aku berpuasa’.”
Pada akhirnya, penghayatan terhadap puasa Ramadan tidak hanya memberikan kenikmatan dalam menjalaninya sebagai ibadah. Lebih dari itu, puasa Ramadan juga melatih umat Islam untuk mampu hidup dan menjalani kehidupannya dengan baik lewat kedisiplinan, tata kelola emosi dan pikiran untuk tetap positif, baik secara internal maupun dari gangguan eksternal dan tetap menjaga produktivitas.
