Ujian Leveling Klinik Gondo Art Production, Cetak Penari Profesional Berbudi Pekerti

Seorang penari cilik menampilkan tari dalam ujian leveling Klinik Gondo Art Production di Padepokan Seni Mayang Sunda, Kota Bandung, Selasa (25/2). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Seorang penari cilik menampilkan tari dalam ujian leveling Klinik Gondo Art Production di Padepokan Seni Mayang Sunda, Kota Bandung, Selasa (25/2). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Klinik Gondo Art Production kembali menggelar evaluasi rutin bagi para penari binaannya.

Berbeda dari sanggar tari pada umumnya, Klinik Gondo Art Production menerapkan sistem pembinaan berjenjang dengan konsep yang menyerupai dunia medis.

“Evaluasi ini selalu kami lakukan setiap delapan bulan sekali. Tujuannya untuk menilai sejauh mana perkembangan para penari, bukan sebagai ajang kompetisi, tetapi lebih kepada sistem ranking,” ujar Owner Klinik Gondo Art Production, Mpap Gondo, saat ditemui Jabar Ekspres usai ujian.

Baca Juga:Kades Nanjungmekar Rancaekek Dorong Kesetaraan Pendidikan Lewat Program Sarjana DesaCiamis Sambut Ramadan dengan Doa Kemanusiaan dan Gerakan Literasi Al-Qur’an

Klinik Tari Gondo Art Production, yang telah berdiri sejak 2010, kini menaungi lebih dari 200 penari, termasuk mereka yang tergabung dalam kelompok Sunda Pratama dan Baladera.

Dalam proses evaluasi ini, sekitar 60 peserta mengikuti ujian untuk naik tingkat.

Menurut Indra Suprapto, koreografer Klinik Gondo Art Production, pembinaan di tempat ini tidak hanya bertujuan mencetak penari yang mahir, tetapi juga berbudi pekerti.

“Buat apa menari bagus kalau tidak punya adab?” ujarnya.

Yang membedakan Klinik Gondo Art Production dari sanggar tari lain adalah sistem pembelajarannya yang unik.

Para peserta menjalani pembinaan berjenjang dengan istilah yang menyerupai dunia medis: Stadium 1, Terampil, Mahir, dan Fisioterapi (tingkatan tertinggi).

“Di tingkat fisioterapi, peserta harus menciptakan karya tari mereka sendiri. Ini adalah tahap akhir sebelum mereka benar-benar siap berkarya secara mandiri,” tambah Mpap Gondo.

Tidak ada batasan usia dalam sistem ini. Klasifikasi peserta lebih didasarkan pada keterampilan mereka.

Baca Juga:Ayah Rachmat Irianto, Bejo Sugiantoro Meninggal DuniaBanjir Rendam Dayeuhkolot Bandung Usai Hujan Deras, Warga Diminta Waspada

“Di Stadium 1, misalnya, ada peserta dari SMP hingga mahasiswa. Yang penting mereka sudah memiliki dasar yang cukup,” jelasnya.

Evaluasi di Klinik Gondo Art Production bukan sekadar ujian tari. Ada juga aspek lain yang dinilai, seperti tata rias panggung.

Bahkan, sebelum ujian akhir, peserta harus melewati pra-evaluasi, yaitu ujian mendadak di mana mereka harus menarikan satu dari tiga tarian yang sudah dikuasai.

0 Komentar