Kisah Pilu Lembur Sawah, Tidur di Tenda Pengungsian Beralaskan Tikar

Ilustrasi: Suasana tenda pengungsian warga terdampak pergeseran tanah di Desa Lembur Sawah, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. (Yudha Prananda / Jabar Ekspres)
Ilustrasi: Suasana tenda pengungsian warga terdampak pergeseran tanah di Desa Lembur Sawah, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. (Yudha Prananda / Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR ESKPRES – Bencana alam yang melanda sejumlah kawasan Kabupaten Sukabumi beberapa waktu lalu masih menyisakan luka mendalam bagi warga yang terdampak. Bagaimana kehidupan di sana?

YUDHA PRANANDA, Kota Bogor, Jabar Ekspres

DESA Lembur Sawah, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi yang bersebelahan dengan Kecamatan Sagaranten menjadi salah satu titik lokasi yang diterjang bencana alam beberapa waktu lalu akibat dilanda banjir bandang hingga menyebabkan pergeseran tanah.

Di sana ada sekitar 600 warga dari 279 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak langsung. Mereka rela meninggalkan tempat tinggalnya demi keselamatan hidup.

Baca Juga:Diprediksi Padat Saat Nataru, Trend Masuknya Kendaraan di GT Pasteur ke Kota Bandung Naik 42,83 PersenAtraksi Memukau dan Keceriaan Anak-anak Hiasi ‘Jawara Presisi Menyapa’ Polres Cimahi

Kini ratusan warga menetap di tenda pengungsian yang tak jauh dari kantor desa setempat. Ini menjadi pilihan yang berat, namun terbaik dibandingkan harus menggadaikan nyawa.

Dua pekan lebih mereka menjalani hidup dengan kehampaan, meniti hari demi hari menanti harapan. Bertahan hidup di belasan tenda darurat di pinggir lapangan luas dengan segala keterbatasan.

“Ya begini kondisinya, memprihatinkan. Warga yang berada di tenda-tenda pengungsian semakin gelisah,” kata Kepala Desa Lembur Sawah, Jama, usai menerima penyaluran bantuan dari Tim PEKA PWI Kota Bogor, di kantor desa setempat, Jum’at (20/12) Sore.

Ratusan warga rela menyambung hidup menanti kehidupan yang layak. Sebab, walau kebutuhan sandang dan pangan terbilang tercukupi, hingga kini warga masih tidur beralaskan tikar tanpa selimut.

“Selain itu, kami juga membutuhkan hadirnya tenaga medis yang standby 24 jam. Karena di pengungsian ini tenaga medis hanya 1 orang dari Puskesmas dan itupun hanya siang, kalau malam tidak ada tenaga medis. Tapi waktu itu ada relawan dari Bogor,” ujar Jama.

Tak muluk-muluk, Jama hanya ingin warganya turut mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah. Ia ingin adanya langkah dan solusi pasti untuk merelokasi warga di desanya ke tempat yang lebih aman.

0 Komentar