JABAR EKSPRES – Segmen kedua dalam debat pertama calon Bupati Bandung di Hotel Sutan Raja, Soreang, Kabupaten Bandung pada Rabu (30/10) berlangsung sengit.
Kedua paslon saling mengemukakan pandangan mengenai ekonomi inklusif dan pelayanan publik yang ditanyai oleh panelis.
Calon Bupati nomor urut 1, Sahrul Gunawan, menekankan pentingnya digitalisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bandung.
Baca Juga:Dandan Arif Hadirkan BandungLink untuk Atasi Macet di Kota BandungDebat Pilwalkot Bandung: Dukung Pelaku Seni, Dhani Wirianata Siapkan Bioskop Rakyat
“Di wilayah Rancaekek, yang dekat dengan industri, kita harus mengaktifkan digitalisasi. Ini penting agar Karang Taruna dan RW berperan lebih aktif,” ujarnya saat memaparkan visinya.
Menanggapi pernyataan Sahrul, calon Bupati nomor urut 2, Dadang Supriatna, menjawab jika jawab paslon no 1 tidak sesuai dengan pertanyaan panelis.
Menurutnya ekonomi inklusif memerlukan pelatihan bagi masyarakat.
“Ekonomi inklusif harus disertai pelatihan yang menyeluruh, mulai dari digitalisasi hingga keterampilan lainnya. Kita perlu menyiapkan SDM yang mampu menghadapi tantangan zaman,” tegas Dadang.
Sahrul pun kemudian membalas dengan kritik terhadap serapan Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang menurutnya tidak mencerminkan kondisi nyata lantaran tidak sesuai dengan capaian dilapangan.
“Banyak yang bingung, termasuk saya, karena data di lapangan tidak sesuai dengan capaian yang disampaikan Kang Dadang,” ujarnya.
Tak hanya itu, debat pun berlanjut dengan pembahasan mengenai pelayanan publik. Dalam pernyataan ini Dadang mengungkapkan bahwa Kabupaten Bandung merupakan daerah rawan bencana, dan sosialisasi mitigasi bencana perlu dilakukan.
“Masyarakat harus memahami penanggulangan bencana, bukan hanya sekedar merespons saat bencana terjadi,” jelasnya.
Baca Juga:Debat Pertama, Ini Visi Misi 2 Paslon Bupati BandungDebat Calon Bupati Bandung, 2 Paslon Siap Beberkan Visi Misi di Hadapan Publik
Sementata itu Sahrul mnyebut bahwa mitigasi bencana harus melibatkan berbagai pihak.
“Sistem Pentahelix perlu dioptimalkan, termasuk peran NGO. BPBD juga harus ditingkatkan kemampuannya agar lebih cepat dalam memberikan data dan informasi,” tutup Sahrul.
