Perda RTRW KBB Tak Hanya Hapus Zona Konservasi, Mitigasi Sesar Cimandiri dan Cirata pun Tak Dimuat

Ilustrasi bukit bintang berada di dekat bentangan Sesar Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres
Ilustrasi bukit bintang berada di dekat bentangan Sesar Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Revisi Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung Barat Nomor 12 Tahun 2012 menjadi Perda Nomor 2 tahun 2024 kembali dikritik oleh sejumlah pihak.

Kali ini kritikan itu muncul dari pegiat geo wisata asal Kecamatan Cipatat. Mereka menilai, dalam aturan yang tertuang di Perda RTRW itu tak memasukkan peta dan mitigasi potensi bencana gempa bumi dari sesar Cimandiri dan Cirata.

Sementara dalam Perda RTRW Bandung Barat Tahun 2024-2044 yang disusun Pemda dan DPRD hanya mencantumkan langkah mitigasi dan kawasan rawan bencana dari Sesar Lembang.

Baca Juga:KPU Jabar Tunggu Regulasi Khusus Soal Calon Tunggal di Pilkada SerentakDemokrat Banjar Mantapkan Strategi Kemenangan di Pilkada 2024

“Padahal, wilayah Bandung Barat juga terlewati sesar Cimandiri dan Cirata yang sama-sama punya potensi gempa dengan karakter merusak,” kata pegiat geo wisata asal Kecamatan Cipatat, Ibnu Faruqi saat dikonfirmasi, Senin (9/9/2024).

Ibnu mengatakan, Perda RTRW yang baru diresmikan beberapa waktu lalu sangat bermasalah. Sebab, bukan hanya menghapus zona konservasi karst Citatah yakni KBAK dan KCAG, tetapi aturan ini juga hanya memasukkan mitigasi dan peta sesar Lembang saja.

“Padahal kita terlewati sesar Cimandiri dan Cirata,” tambahnya.

Jika merujuk pada buku Pusat Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PusGen) yang diterbitkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2017, dikatakan Ibnu, sesar Cimandiri memiliki panjang 100 kilometer.

Bentangan sesar tersebut, membentang dari kawasan Padalarang Bandung Barat hingga Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Sesar ini dibagi tiga segmen yakni Cimandiri di daerah Sukabumi, Cibeber di Cianjur, serta Rajamandala di Bandung Barat.

“Sesar Cimandiri di Bandung Barat merupakan segmen sesar Rajamandala. Mekanisme pergerakan patahan ini terdiri dari sesar naik dan sesar mendatar dengan arah orientasi barat-timur dan timur laut-barat daya,” terangnya.

“Segmen pertama yakni Cimandiri di daerah Sukabumi, memiliki potensi gempa 6,7 magnitudo, segmen kedua yakni Cibeber di Kabupaten Cianjur punya potensi gempa 6,5 magnitudo, dan terakhir segmen Sesar Rajamandala memiliki potensi gempa 6,6 magnitudo,” tambahnya.

Sementara itu, Sesar Cirata berdasarkan penelitian A. Soehami memiliki tiga segmen yakni Segmen Patahan Naik Citarum-Cisomang, Segmen Patahan Naik Saguling, dan Segmen Patahan Naik Pasir Cabe. Sesar ini berpotensi memicu gempa 7 Magnitudo dengan siklus 80 tahun.

0 Komentar