Film Menjelang Ajal Sudah Tayang di Bioskop, Ceritakan Pesugihan Berujung Mala Petaka

Film Menjelang Ajal Sudah Tayang di Bioskop, Ceritakan Pesugihan Berujung Mala Petaka
Film Menjelang Ajal Sudah Tayang di Bioskop, Ceritakan Pesugihan Berujung Mala Petaka
0 Komentar

Selain itu, anak sekar yang bungsu yaitu Dodi, juga berhasil menarik hati penonton yang selalu memberikan ekspresi kepolosan saat menghadapi ibunya yang sedang kerasukan dan berusaha menyadarkan Sekar.

Sementara Ratna sebagai anak perempuan, juga mengalami pergulatan batin karena tidak percaya apa yang dialami sang ibu, namun tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya Dani harus menjadi penolong ibu sekaligus harus kuat untuk kedua adik-adiknya.

Sekar yang menjalani perjanjian dengan jin untuk ‘pelaris’ warungnya menjadi cerita yang dekat dengan masyarakat. Praktik pesugihan yang masih sering menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, menjadi cerita mudah dimengerti penonton.

Baca Juga:Meski Kalah dari Uzbekistan, Shin Tae Yong Optimis Timnas Indonesia Bisa Lolos Masuk Olimpiade Paris 2024Kenali Pentingnya Setting Spray Agar Makeup Tahan Lama

Seperti saat calon pembeli yang melewati warung Sekar merasakan warung tersebut kumuh dan bau, padahal menurut pandangan Sekar warungnya bersih dan tertata rapi. Juga pada saat akhirnya ada satu pembeli yang membeli makanan dagangannya, namun saat dibawa pulang ternyata basi dan bau.

Hal itu pun diakui penulis skenario Deni Saputra yang mengambil cerita ini berdasarkan pengalaman nyata pribadinya yang menyaksikan langsung peristiwa pesugihan.

Cerita dalam film mengambil latar waktu tahun 1990an yang ditandai dengan ponsel yang digunakan bukan layar sentuh seperti zaman sekarang dan televisi dalam rumah Sekar masih merupakan TV tabung. Sedangkan lokasi cerita berada di daerah Jawa Barat, yang bisa dirasakan dari dialog para pemain menggunakan aksen Sunda.

Berdasarkan pengalaman saat menonton, ada beberapa adegan  klasik ala film horor masih digunakan untuk membangun esensi horor dalam film ini. Seperti peristiwa mati lampu saat hujan besar untuk membangun efek mencekam, dan pengambilan angle yang sudah bisa ditebak dari mana arah penampakan akan muncul. Meskipun terasa klasik, penonton tetap masih merasakan kaget dan tak jarang menutup mata.

Selain cerita yang ‘relate’ dengan masyarakat, alur cerita yang mengalir juga membuat penonton tidak kebingungan untuk memahami isi cerita dari film ini. Chemistry para pemain pun sangat terlihat natural, meskipun beberapa diantara mereka baru pertama kali bermain dalam projek film ini.

0 Komentar