Menakar Rambatan Dampak Konflik Iran-Israel Terhadap Ekonomi RI

Menakar Rambatan Dampak Konflik Iran-Israel Terhadap Ekonomi RI
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (20/2/2024). Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencatat jumlah eskpor sepanjang 2023 mencapai 2.329 ton atau naik 4,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya hanya mencapai 2.224 ton. ANTARA FOTO/Andry Denisah/Spt.
0 Komentar

Untuk saat ini, inflasi tahunan Indonesia masih tercatat di level yang aman, yakni 3,05 persen per Maret 2024. Apabila terjadi kenaikan harga BBM, hal ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi Indonesia.

Suku bunga yang tertahan

Sebelum terjadi serangan balasan Iran ke Israel, beberapa pidato Ketua Bank Sentral AS atau The Fed Jerome Powell tersirat sinyal langkah bank sentral ini untuk menurunkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR). Namun hal itu kian sirna dengan adanya serangan mendadak Iran ke Israel yang berbuntut pada aksi saling berbalas.

Saat ini, suku bunga The Fed masih tertahan di level 5,25-5,50 persen, dan diprediksi akan tetap di level yang sama bahkan berpotensi naik. Hal ini merupakan imbas lain dari eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Baca Juga:Catatan Evaluasi Layanan Transportasi IndonesiaBappenas: RKP 2025 Sangat Strategis untuk Teruskan Estafet Kemajuan

Suku bunga acuan The Fed perlu diwaspadai oleh negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia. Apalagi mengingat dolar AS saat ini yang terus menguat hingga melemahkan nilai tukar lainnya, termasuk rupiah. Suku bunga acuan yang tinggi menyebabkan tekanan lebih bagi nilai tukar rupiah.

Ekonom sekaligus mantan Menteri Riset dan Teknologi RI periode 2019 -2021 Bambang Brodjonegoro menilai, sebagai langkah antisipasi dampak suku bunga The Fed, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap melakukan intervensi, namun tidak menggunakan cadangan dolar AS karena akan berakibat fatal.

“Kalau misal BI menaikkan suku bunga barangkali efeknya tidak terlalu kuat karena memang yang kejadian adalah dolar AS menguat terhadap semua mata uang akibat tingkat bunga yang tinggi. Ditambah sekarang gara-gara Iran-Israel, investor akan mencari safe haven. Tempat paling aman itu selalu dua, satu US dollar, satu US treasury bond,” jelasnya.

Bahkan, eskalasi konflik kedua antar dua negara dapat berdampak terhadap perubahan target pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,2 persen menjadi 4,6-4,8 persen.

Guna mengantisipasi kemungkinan terburuk, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati menyiapkan strategi untuk menjaga nilai tukar rupiah.

“Stabilitas ekonomi makro akan senantiasa dijaga, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) terus dilakukan untuk beradaptasi dengan tekanan yang ada. Dari sisi fiskal, kita memastikan APBN berperan menjadi shock absorber yang efektif dan kredibel,” ujar Sri Mulyani.

0 Komentar