Menakar Rambatan Dampak Konflik Iran-Israel Terhadap Ekonomi RI

Menakar Rambatan Dampak Konflik Iran-Israel Terhadap Ekonomi RI
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (20/2/2024). Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencatat jumlah eskpor sepanjang 2023 mencapai 2.329 ton atau naik 4,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya hanya mencapai 2.224 ton. ANTARA FOTO/Andry Denisah/Spt.
0 Komentar

Tak berhenti di situ, harga minyak dunia diprediksi akan terus mengalami kenaikan hingga mampu menembus 100 dolar AS per barel apabila tidak segera terjadi deeskalasi konflik.

Bagi Indonesia, naiknya harga minyak dunia memiliki arti Pemerintah perlu memutar otak untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Sebagai tanggapan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sendiri sudah memastikan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM hingga Juni mendatang. Walaupun Ia mengakui bahwa konflik Iran-Israel memang berpotensi mengganggu pasokan sekaligus meningkatkan harga minyak dunia.

Baca Juga:Catatan Evaluasi Layanan Transportasi IndonesiaBappenas: RKP 2025 Sangat Strategis untuk Teruskan Estafet Kemajuan

Kendatipun saat ini Indonesia relatif tidak terlalu bergantung pada pasokan BBM dari Timur Tengah, konflik Iran-Israel secara tak langsung tetap berdampak karena serangan antara dua negara itu terjadi di dekat Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur logistik yang krusial.

Konflik ini kemungkinan akan menghadapkan Pemerintah Indonesia pada dua pilihan dilematis, yakni antara terpaksa menaikkan harga BBM atau menyesuaikan anggaran subsidi BBM guna menahan lonjakan harga.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji sebelumnya telah melakukan kalkulasi dengan asumsi kenaikan harga jual minyak mentah di Indonesia (Indonesian Crude Oil Price/ICP) 100 dolar AS per barel, dengan kurs Rp15.900 per dolar AS.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa anggaran subsidi dan kompensasi BBM dapat naik menjadi Rp249,86 triliun dari asumsi APBN 2024 yang sekitar Rp160,91 triliun apabila harga minyak mentah menembus 100 dolar AS per barel. Hal ini menjadi gambaran skenario terburuk imbas dari konflik Iran-Israel.

Senada, ekonom Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky juga memproyeksikan akan terjadi penyesuaian subsidi BBM dalam negeri.

Kalau konfliknya cukup besar, maka beban subsidi kian besar pula, bahkan mungkin perlu adanya tambahan atau penyesuaian lebih lanjut dari subsidi BBM.

Efek domino lain yang berpotensi mengikuti yaitu inflasi yang kian meningkat seiring naiknya harga BBM dalam negeri. Harga barang yang diatur pemerintah seperti BBM dan elpiji (LPG) menjadi salah satu penyumbang inflasi.

0 Komentar