JABAR EKSPRES – Sebuah studi neuroimaging terhadap balita yang terpapar kekerasan fisik atau emosional dalam enam bulan terakhir melaporkan bahwa anak-anak yang mengalami perlakuan buruk yang lebih parah cenderung memiliki volume otak total yang lebih kecil. Hal ini terutama disebabkan oleh volume materi abu-abu yang lebih kecil dan dikaitkan dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah. Makalah ini diterbitkan di Neurobiology of Stress.
Perlakuan buruk terhadap anak merujuk pada berbagai bentuk kekerasan dan pengabaian yang dialami oleh anak-anak di bawah umur 18 tahun. Ini mencakup kekerasan fisik, emosional, dan seksual, serta pengabaian fisik dan emosional. Kekerasan fisik melibatkan penyebabkan cedera fisik melalui tindakan seperti memukul atau membakar.
Kekerasan emosional termasuk perilaku yang merugikan harga diri atau kesejahteraan emosional anak, seperti pelecehan verbal atau kritik berlebihan. Pelecehan seksual melibatkan setiap aktivitas seksual dengan seorang anak, termasuk pelecehan, pemerkosaan, atau eksploitasi. Di sisi lain, pengabaian terjadi ketika seorang pengasuh gagal memenuhi kebutuhan dasar anak, termasuk makanan, tempat tinggal, perawatan medis, dan nutrisi emosional.
Baca Juga:Mengantuk Bisa Membuat Anda Merasa Lebih Tua dari Usia Sebenarnya? Berikut Hasil PenelitiannyaDampak Psikologis Kesepian: Meningkatnya Risiko Kecanduan Smartphone
Perlakuan buruk pada masa kanak-kanak dapat memiliki efek jangka panjang terhadap kesehatan mental dan fisik seseorang. Studi telah menunjukkan bahwa hal itu dapat menyebabkan kondisi seperti depresi, kecemasan, penyalahgunaan zat, dan kondisi kesehatan kronis di kemudian hari.
