53 Persen Penyintas Longsor di Cipongkor KBB Tunjukkan Gejala PTSD

Kondisi tanah longsor di Kampung Gintung, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (28/3).
Kondisi tanah longsor di Kampung Gintung, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (28/3). (Foto: Suwitno/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Korban bencana tanah longsor di Kampung Gintung, Desa Cibenda, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami gejala stres pasca trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).

Gejala itu diutarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Bandung (ITB) setelah mereka turun dan membantu korban longsor di Kampung Gintung.

Korban terdampak bencana alam atau penyintas, dinilai LPPM ITB rentan mengalami gejala PTSD berkelanjutan seperti re-experiencing, avoidant, negative cognitive/emotional, maupun arousal.

Baca Juga:Laka Lantas di Jalan Soekarno-Hatta Bandung, 2 Orang Regang NyawaMenyoal Isu Hiburan Malam di Kota Bandung yang Tetap Buka saat Ramadan

Diketahui, PTSD merupakan gangguan kejiwaan yang bisa terjadi pada orang yang pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis karena berbahaya secara emosional atau fisik atau mengancam jiwa. Atau bisa pula kejadian yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental, fisik, sosial, dan atau spiritual.

“Dari hasil screening awal, sebanyak 53% penyintas menunjukkan gejala PTSD, dan 75% dari penyintas tersebut adalah orang dewasa,” papar Dr. Lulu Lusianti Fitri, anggota Kelompok Keahlian Fisiologi, Perkembangan Hewan dan Sains Biomedika, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), melalui keterangan resminya, Kamis 4 April 2024.

Melalui instrumen kuesioner PTSD Checlist for DSM-5 (PCL-5, Past Week Version) yang diikuti dengan pengukuran gelombang otak melalui perangkat electroencephalograf (EEG). Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB melakukan screening gejala PTSD pada penyintas longsor di Desa Cibenda.

Screening dilakukan bukan hanya bagi korban terdampak berat yang kehilangan tempat tinggal ataupun kehilangan saudara dan kerabat akibat bencana.

“Hasilnya para lenyintas memperlihatkan kecenderungan lebih tinggi pada gejala avoidant atau meredam memori traumatis dengan aktivitas lain secara komunal, dan gejala arousal atau mengalami ketegangan yang dominan sehingga lebih waspada dan menunjukkan gejala insomnia,” terang Lulu.

Penyintas Bencana Longsor itu diberikan pelatihan teknik terapi mengetuk di sekitar jalur energi tubuh atau disebut S-EFT untuk membantu penyintas menurunkan stres dan trauma. Praktik tersebut disertai berdoa dengan kata-kata positif atau antonim dari berbagai perasaan negatif yang sedang dialami penyintas bencana longsor. Selain itu, dilakukan cek kesehatan dan pemberian obat.

0 Komentar