Dengan adanya bantuan bibit cabai dari pemerintah Kota dan Bank Indonesia, ia berharap masyarakat dapat menikmati hasil produksi para petani di Cimahi.
“Saya berharap ini produksi Cimahi sendiri dan dapat di konsumsi oleh masyarakat Cimahi sendiri. Kemungkinan mekanisme pasca panen seperti itu, kalau emang sudah bagus ini kerja samanya akan dilanjutkan,” harap Jefri.
Jefri memperkirakan saat ini akan menjadi puncak panen komoditi cabai, karena awal musim penghujan membuat para petani akan melakukan penanaman di wilayahnya masing-masing. Meskipun demikian, ia akan berupaya menampung produksi para petani.
Baca Juga:Kekecewaan Atas Penetapan UMK 2024 Terus Berlanjut, Ini Langkah Buruh Jabar SelanjutnyaPanwascam Katapang Kawal Distribusi Logistik Tahap Pertama
“Mungkin sekarang ada perwakilan dari Pemerintah Cimahi yang memantau, saat ini tidak bebas seperti menanam sendiri, karena ini bantuan. Mungkin dari pemasaran nya tidak bebas seperti sendiri. Saat panen juga pak wali kota akan hadir juga, nanti mungkin soal penjualan bisa di bantu oleh pemerintah untuk masuk pasar,” kata Adang.
Untuk harga cabai sendiri menurut para petani cabai di kelurahan Citeureup masih melonjak tinggi, dan untuk harga jual cabai saat ini hampir mencapai Rp. 120 Ribu per kilo.
“Seperti disini sudah ada pedagang yang langsung bawa ke pasar atau pemborong. Untuk harga cabai merah saat ini Rp. 120 ribu per kilo kalau cabai rawit Rp. 70 ribu per kilo,” jelas Amin Koswara, Anggota Tani Huripjaya.
Amin berharap ketika panen sudah tiba, harga komoditi di pasar dapat berangsur turun dan tidak mahal kembali seperti saat ini.
“Harapannya ketika sudah panen bisa turun harga agar tidak mahal, mungkin itu kalau panen raya juga,” harap Amin. (Mong)
