JABAR EKSPRES – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinasi Jawa Barat, terus berupaya melestarikan lingkungan kelautan dan pesisir serta biota laut, khususnya penyu yang populasinya terus menurun, perlu untuk terus digalakan.
Seperti kegiatan yang dilaksanakan pada hari kamis (13/11) di Kawasan Konservasi Penyu Pangumbahan CDKPWS-DKP Jabar Diperlukannya terobosan dalam pengelolaan kawasan konservasi
“Melalui skema crowdfunding, diharapkan dapat menyasar banyak kalangan, baik dalam maupun luar negeri, untuk mendonasikan atau berinvestasi pada sektor konservasi, yang dampaknya berkelanjutan bagi kelestarian lingkungan,” papar Irfan dalam kegiatan Softlaunching Aplikasi GO-WISATA.
Baca Juga:Dorong Perkembangan Kewirausahaan di Bidang Energi Baru dan Terbarukan (EBT), Shell Gelar Roadshow LiveWIRE Energy Solutions 2024 di SBM ITBKumpulkan Pajak, DJP Gandeng KPK dan Pemda Jabar
Irfan juga menjelaskan, sebagai inisiator dalam membuat aplikasi GO-WISATA ia bekerja sama dengan Civitas Akademika UNIKOM Bandung. Irfan berharap, pengembangan aplikasi ini dapat menjadi prototype yang dapat diterapkan di kawasan konservasi lainnya.
“Semoga dengan aplikasi ini, dapat mentrigger gerakan crowdfunding yang melibatkan masyarakat lebih luas. Juga sekaligus sebagai sarana informasi kepada masyarakat tentang kawasan konservasi serta manfaatnya bagi lingkungan,” terang Irfan.
Pada rangkaian kegiatan tersebut, juga dilaksanakan peresmian Pondok Edukasi dan Kolaborasi serta Pemberdayaan Masyaraksat Kawasan Konservasi Penyu Pangumbahan, yang pembangunannya bersumber dari dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PT Migas Utama Jabar.
Pada kesempatan tersebut, Kepala DKP Jabar Hermansyah menyampaikan apresiasi dengan adanya terobosan aplikasi GO-WISATA, serta adanya pembangunan Pondok Edukasi dan Kolaborasi yang dibangun oleh PT Migas Utama Jabar.
“Saya sangat mengapresiasi dengan terobosan aplikasi GO-WISATA dan juga bantuan dari PT. Migas Utama Jabar,” kata Hermansyah.
Ia menilai, pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan kawasan konservasi yang begitu luas, dengan keterbatasan anggaran dan SDM yang ada memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak.
