JABAR EKSPRES – Pemandangan tak biasa muncul setelah debit Sungai Citarum menyusut dan mengering akibat terdampak musim kemarau. Bahkan dasar sungai kini dipenuhi oleh hamparan rerumputan hijau.
Meski wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) beberapa hari terakhir dilanda hujan lebat. Namun, debit air belum maksimal, dan membuat sejumlah jembatan apung di Sungai Citarum dan genangan Waduk Saguling tak lagi mengapung di atas air.
Salah satunya Jembatan Alfian atau Jembalas yang biasa mengapung di atas aliran Sungai Citarum, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat kini kondisinya sudah menyentuh langsung ke dasar sungai yang mengering.
Baca Juga:Kasus Cacar Monyet Bertambah, Dinkes Jabar Beberkan DampaknyaTPPAS Legok Nangka Dibangun Jadi Waste to Energy, WALHI Jabar Ambil Sikap: Kami Tolak Keras!
Pantauan di lokasi, di sekitar Jembatan Alfian yang mengering dan berubah menjadi hamparan rumput hijau dimanfaatkan warga untuk wisata. Mereka menghabiskan waktu bersama keluarga di sana hanya untuk melihat-lihat.
Jembatan Alfian memiliki panjang 516 meter dan lebar 2,5 meter menghubungkan antara Kecamatan Batujajar dengan Cihampelas. Dibangun oleh warga dan diresmikan 18 Desember 2021 lalu. Menghabiskan biaya sekitar Rp1 miliar.
Deden (35) seorang nelayan mengatakan, penyusutan debit Sungai Citarum mengering mulai terjadi pada September 2023. Hal itu ditandai dengan kemunculan hamparan rumput rumputan hijau di sepanjang aliran sungai.
“Jembatan-jembatan apung di aliran ini sampai menapak ke dasar sungai,” ujar Deden saat ditemui, Selasa (24/10/2023).
Menurutnya, penyusutan Sungai Citarum akibat musim kemarau membawa keberkahan bagi para nelayan. Pasalnya hasil tangkapan ikan melimpah, berbeda jika halnya debit air sungai meninggi. Ikan pun sulit didapat.
“Berkah bagi kami ini, ikan-ikan gampang didapat oleh kami,” katanya.
Sementara itu, Pengelola Jembatan Afian, Gaston Barus mengatakan, penurunan jembatan hingga menapak ke dasar sungai ada positif dan negatifnya. Kondisi jembatan yang tak lagi mengapung dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan konstruksi.
“Positifnya, saat badan jembatan menyentuh dasar sungai memudahkan perawatan konstruksi jembatan seperti penggantian bantalan kayunya. Untuk mengganti bantalan kayu tidak harus melepas dulu fleksibel jembatannya,” ucapnya.
Baca Juga:Ini BUMD Jabar yang Rajin dan Malas Setor DevidenPenanganan Belum Optimal, Masa Darurat Sampah di Kota Bandung Bakal Diperpanjang Lagi
Sementara negatifnya, Gaston menerangkan, bagian paling bawah jembatan yang terbuat dari drum bekas menjadi penyok-penyok.
“Karena bagian atas jembatan terus dilintasi sepeda motor sehingga drum-drum yang fungsinya agar jembatan melayang di atas air, kini banyak yang penyok-penyok,” sebutnya.
