JABAREKSPRES.COM, BANDUNG – Dampak musim kemarau yang melanda sejumlah titik di wilayah Bandung Raya, krisi air pun meluas. Namun, hal itu tidak berlaku bagi warga Kampung Cikendi, Kelurahan Hegarmanah, Kota Bandung. Alasanya, karena di tempat itu terdapat Mata Air Cikendi atau dikenal dengan Pancuran Tujuh.
Air yang keluar dari mata air itu ada yang dialirkan lewat tujuh pancuran. Itulah alasannya kenapa mata air itu dikenal dengan nama Pancuran Tujuh.
Di pancuran itulah, biasanya warga sekitar memanfaatkan air untuk berbagai aktivitas. Mulai dari mandi, mencuci pakaian, dan berbagai keperluan lain.
Baca Juga:VIRAL! Tarif Parkir Stasiun Cimekar Mahal, Pengelola Angkat BicaraGeger! Pelajar SMKN di Kabupaten Bogor Akhiri Hidup, Ditemukan Tewas di Kamar Mandi Rumahnya
Selain itu, air dari mata air tersebut juga ditampung dalam tandon air. Kemudian, air itu dialirkan ke sejumlah rumah – rumah warga sekitar.
Makanya, ketika musim kemarau seperti ini warga sekitar tidak bingung. Stok air mereka tetap melimpah.
“Sejauh ini belum pernah surut. Jadi gak bingung kalau kemarau seperti sekarang,” kata Liyah, warga sekitar.
Liyah menambahkan, untuk bisa menikmati air bersih dari mata air itu, warga juga tidak perlu keluar biaya alias gratis.
“Ada yang mengambil air lewat pipa yang dialirkan ke rumah. Ada juga yang datang langsung ke Pancuran Tujuh,” tuturnya.
Menurut Liyah, ketika musim kemarau seperti ini tidak hanya warga setempat yang datang ke mata air tersebut. Tetapi sejumlah warga dari RW lain juga kerap datang. “Mungkin karena sumurnya kering, jadi ikut ambil air kesini,” imbuhnya.
Bahkan sampai saat ini, mata air itu juga masih jadi rujukan beberapa warga luar kota. Namun biasanya mereka datang bukan karena faktor kekeringan, tetapi untuk melaksanakan sejumlah ritual tertentu.
