Adiwijaya menambahkan untuk pembuatan alat Si Soil sendiri sudah berlangsung selama 3 tahun dari tahun 2021 hingga 2023 dengan pembiayaan sebesar Rp4,4 Miliar dari LPDP.
Adapun Si Soil sendiri sudah digunakan di Kabupaten Karang Anyar dan nantinya akan diimplementasikan ke Seluruh Indonesia
“Saat ini digunakan di Kabupaten Karang Anyar. Diujicoba di sana, insyaallah nanti saya sudah minta ke tim peneliti untuk diimplementasikan di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Baca Juga:Sebanyak 126 Karhutla Terjadi, Walhi Jabar Sebut KLHK Tak Ada Upaya Mitigasi dan PengawasanBLACKPINK “The Girls” Pecahkan Rekor OST K-Pop Terlama di Spotify Global
Sementara itu, ketua tim peneliti Doan Perdana menyebut secara teknisi alat Si Soil ini berbentuk portable sehingga bisa ditancapkan ke dalam tanah dan dalam hitungan 30 detik bisa memberikan informasi.
“Kemudian akan memberikan informasi selama 30 detik, jadi kurang dari 1 menit. Itu sudah memberikan informasi secara realtime kandungan unsur hara, NPK, PH dan kelembaban tanah,” kata Doan.
Doan menjelaskan menurutnya selama ini petani untuk mengetahui kandungan kesuburan tanah itu tidak bisa realtime.
Sehingga saat ini yang menjadi problemnya harus menunggu untuk analisis ke web, dengan waktu dua minggu sampai satu bulan.
“Sehingga kami mengembangkan inovasi, ini bisa secara realtime mengetahui kandungan unsur hara dalam tanah. Bisa ditindaklanjuti,” katanya.
Sejauh ini, pihaknya telah melakukan ujicoba terhadap tanaman kedelai. Hasilnya, kata dia, produktifitas tanaman kedelai mencapai 30 persen.
“Jadi kapan tanaman ini harus dipupuk, dan berapa dosisnya. Karena selama ini ketika kami roadshow ke beberapa petani, memang selama ini memberikan pupuk itu tidak tahu. Apakah harus hari ini dipupuk, atau besok dipupuk, dan berapa dosis atau kadarnya,” terangnya.
Baca Juga:Modal Hanya Lulusan SMK, Yosep Barkah Ibrahim Berprinsip Ilmu untuk Selesaikan MasalahKonser g.o.d. di Akhir Tahun Jadi Momen Perayaan 25 Tahun Karier
Saat ini, Si Soil sendiri mulai dibandrol dengan harga Rp 8 sampai Rp 10 juta. Menurutnya, harga tersebut dinilai lebih ekonomis dibandingkan dengan proses mengecek kondisi tanah dan mengetahui waktu pemupukan.
