TPAS Cibeureum Sumedang Tak Miliki Alat Timbang?

kondisi tumpukan sampah di TPAS diselimuti kepulan asap hasil sampah yang terbakar, Sabtu 26 Agustus 2023. (Je/ Dedi Suhandi)
kondisi tumpukan sampah di TPAS diselimuti kepulan asap hasil sampah yang terbakar, Sabtu 26 Agustus 2023. (Je/ Dedi Suhandi)
0 Komentar

TPAS Cibeurem sendiri dibangun pada tahun 1996. Saat itu, TPAS Cibeureum direncanakan dapat beroperasi hingga 20 tahun lamanya atau kini 7 tahun sudah melampuai usia yang direncanakan itu.

“Kalau di lokasi dulu ada instalasi pembuangan gas metan kalau di lokasi sekarang tidak ada,” ungkap Kasubag TU TPAS Cibeureum Sapna Sukarsa menambahkan.

Lokasi TPAS terpaksa dipindah lantaran lokasi sebelumnya terjadi longsor hingga menyebabkan kerusakan pada Instalasi pengolahan air limbah atau IPAL dan pengolahan gas metan.

Baca Juga:Menelisik Pengelolaan Sampah Bermetode Controlled Landfill dan Sanitary Landfill di Kaki Gunung Tampomas SumedangRatusan Jiwa Alami ISPA, Hengky Kurniawan Relokasi Warga ke Tempat yang Jauh dari Asap

“Akibat adanya longsor, kolam pantau IPAL jadi tertimbun oleh sampah dan sekarang hanya menyisakan puing-puingnya saja, itu kenapa lokasi TPAS dipindah ke sini sekarang,” ungkapnya.

Ia pun membenarkan bahwa TPAS Cibeureum tidak memiliki alat timbang. Padahal menurutnya, alat timbang tersebut sangat diperlukan untuk menghitung keakuratan jumlah sampah yang masuk.

“Ya sebetulnya diperlukan sekali alat timbang sampah itu, sebab sejauh ini perhitungan sampah yang masuk masih berdasarkan banyaknya jumlah truk yang masuk dalam hitungan kubik,” terangnya.

Berdasarkan data dari Bidang Pengelolaan Sampah, TPAS Cibeureum dalam satu harinya menampung sekitar 130 kubik sampah. Sampah-sampah itu diangkut oleh 17 truk yang tersedia.

Jika satu bulan dihitung 30 hari maka TPAS Cibeureum menampung sekitar 3.900 kubik sampah setiap bulannya.

“Dari jumlah itu (3.900 kubik sampah yang masuk per bulan), ada sekitar 30 ton sampah bisa berkurang per bulannya lantaran terbantu oleh pihak-pihak lain yang salah satunya keberadaan para pemulung yang memanfaatkan sampah bernilai ekonomis,” pungkasnya. (Mg11)

 

0 Komentar