Kementerian Luar Negeri Irak juga telah meminta negara-negara Uni Eropa untuk mempertimbangkan kembali pandangan mereka tentang kebebasan berekspresi dan hak untuk berdemonstrasi.
Meskipun aksi pembakaran Al Quran bukanlah hal baru di Eropa. Tetapi kejadian-kejadian penistaan agama ini semakin meningkat setelah politikus ekstrem kanan, Rasmus Paludan, melakukan aksi serupa di Denmark dan Swedia beberapa bulan lalu.
Paludan melakukan aksi pembakaran Al Quran sebagai bentuk protes terhadap Turki. Karena Turki telah menghalangi Swedia untuk menjadi anggota Aliansi Pertahanan Negara Atlantik Utara (NATO).
Baca Juga:Logo Twitter Diganti, Begini Sejarah Perjalanan Logo Twitter dari Burung hingga ke XResmi Dijual di Malaysia, Segini Perkiraan Harga Hyundai Ioniq 6 di Indonesia
Aksi pembakaran Al Quran terbaru terjadi ketika seorang imigran asal Irak melakukan tindakan serupa di Masjid Pusat Stockholm, Swedia, pada perayaan Idul Adha.
