Tradisi Brandu di Gunung kidul Memicu Wabah Antraks

Tradisi Brandu di Gunung kidul Memicu Wabah Antraks
Tradisi Brandu di Gunung kidul Memicu Wabah Antraks
0 Komentar

Sebagai bentuk simpati dari masyarakat, Kepala Desa Candirejo, Renik David Warisman, mengungkapkan bahwa warga setempat memang melaksanakan tradisi brandu sebelum kasus antraks muncul di Dusun Jati, Desa Candirejo, Kecamatan Semanu, Gunung kidul. Menurutnya, tradisi brandu adalah cara masyarakat menunjukkan simpati terhadap tetangga yang kehilangan ternak.

“Bagi para petani, ternak adalah tabungan mereka. Oleh karena itu, jika ternak mereka mati, itu merupakan musibah bagi mereka. Jadi, tradisi brandu merupakan cara untuk meringankan beban pemilik ternak yang sedang mengalami musibah,” ujarnya. Meskipun niatnya baik, tradisi ini tetap membawa risiko penyebaran penyakit dari hewan ke manusia.

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto, menyatakan bahwa warga sering mendapatkan sosialisasi mengenai bahaya memakan daging hewan mati dalam tradisi brandu. “Sosialisasi terus-menerus telah di lakukan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) agar tradisi brandu tidak di lanjutkan. Sudah ada sosialisasi yang berulang kali di lakukan. Namun, faktor ekonomi menjadi penyebab utama karena biasanya dagingnya di anggap tidak bernilai,” jelasnya.

Baca Juga:Terobosan Baru! Xiaomi Siap Luncurkan Mix Fold 3 dengan Kamera Leica di Agustus Mendatang!!TVS Ronin 225, Motor Sport Retro dengan Sentuhan Modern, Kini Hadir di Indonesia

Dalam rangka menangani penyebaran penyakit antraks ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sedang mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih efektif dan proaktif. Di harapkan dengan upaya-upaya tersebut, tradisi brandu dapat di kurangi atau di hentikan sehingga risiko penyebaran antraks dapat di minimalisir.

0 Komentar