JABAR EKSPRES – Dunia kembali di kejutkan dengan munculnya varian baru COVID-19, yang kali ini menimbulkan lonjakan kasus Corona di beberapa negara di Eropa. Varian baru yang di beri nama EU.1.1 ini menjadi perhatian serius bagi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) yang saat ini sedang melakukan pelacakan terhadap varian baru tersebut.
Pada Jumat (23/6), CDC mengumumkan penambahan lebih banyak subvarian Omicron ke dalam daftar jenis baru yang semakin kompleks. Subvarian Omicron pertama kali di identifikasi oleh para ilmuwan pada awal tahun ini, karena terjadi lonjakan kasus yang cepat di beberapa negara Eropa.
Meskipun demikian, masih belum di ketahui apakah subvarian Omicron atau varian EU.1.1 ini akan menunjukkan gejala yang berbeda seperti subvarian Omicron 1.16 yang sebelumnya di ketahui menyebabkan gejala mata merah pada orang yang terinfeksi.
Baca Juga:Terbongkar! Pengakuan Rendy Kjaernett Akui Tato Wajah SyahnazBobotoh Persib Kecewa!! Suporter Gelar Aksi Protes Dan Walkout
Menariknya, hampir semua orang di Amerika Serikat saat ini di yakini telah memiliki antibodi melalui vaksinasi, setidaknya satu jenis atau kombinasi dari keduanya. Namun, terjadi peningkatan jumlah pasien rawat inap dan kematian akibat infeksi ulang.
Dengan munculnya varian EU.1.1 yang lebih menular, perlu adanya upaya yang lebih intensif dalam penanganan COVID-19. Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai protokol kesehatan yang ketat, termasuk vaksinasi dan penggunaan masker, tetap menjadi kunci utama dalam memerangi penyebaran virus ini.
Belum ada informasi yang spesifik mengenai dampak varian EU.1.1 pada Indonesia dalam artikel yang di berikan. Namun, sebagai sebuah varian yang lebih menular, kemungkinan besar varian ini juga dapat mempengaruhi situasi COVID-19 di Indonesia.
