SATELIT milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) jatuh ke bumi, tepatnya di gurun sahara, Sudan sekitar 21,3 derajat lintang utara dan 26 derajat bujur timur.
Badan Antariksa dan Penerbangan memastikan, jatuhnya satelit yang sudah tidak digunakan selama satu dekade jatuh ke bumi ini, tak menimbulkan korban.
NASA juga melaporkan tak ada kerusakan yang disebabkan oleh jatuhnya satelit tersebut.
Baca Juga:542 WNI Dievakuasi Imbas Konflik Militer SudanBantah Pakai Bom dalam Penyelamatan Pilot Susi Air, Begini Penjelasan Aparat
Satelit tersebut awalnya digunakan untuk mempelajari matahari. Ratusan data penting terekam dalam benda antariksa itu.
Satelit yang disebut Rhessi ini diperkirakan memiliki berat 300kg. Sepanjang masa aktif, Rhessi telah merekam lebih dari 100.000 peristiwa sinar-x.
Rhessi (Reuven Ramaty High Energy Solar Spectroscopic Imager) diluncurkan pada tahun 2002 untuk mempelajari semburan matahari.
Hasil pengoperasiannya, para ilmuwan lebih terbantu dalam memahami semburan api matahari yang dapat meledakkan Bumi.
Kendati demikian, sebetulnya para ahli memperkirakan Rhessi akan terbakar saat bergesekan dengan atmosfir yang kemungkinan hanya beberapa bagian yang akan sampai bumi.
Data dari Rhessi memberikan petunjuk penting tentang semburan matahari dan lontaran massa koronal yang terkait.
Peristiwa ini melepaskan energi yang setara dengan miliaran megaton TNT ke atmosfer matahari dalam hitungan menit dan dapat berdampak pada Bumi, termasuk gangguan sistem kelistrikan.
Dan pada tahun 2018 lalu Rhessi dimatikan karena adanya masalah komunikasi.
Baca Juga:Luis Milla Harapkan Skuad yang Lebih KompetitifBerantas Malaria, Dokter: Perlu Pendekatan Khusus Skala Besar
Kepingan sampah luar angkasa bukan hanya kali ini saja yang memasuki bumi.
Faktanya rata-rata, 200-400 keping sampah luar angkasa masuk kembali ke atmosfer Bumi setiap tahun.
